Kebijakan Cinta Pada Karya Lama, Bagian 19

"Galuh, kamu banyak rencana, ya? Aku di rumah saja, ingin bantu eyang menata kamar-kamar," sahutnya.
"O, kalau begitu, saya jalan sendiri, mau cari pemandangan desa-desa, ah!" ujarku.
"Ya udah, semoga hari yang menyenangkanmu, Galuh!"
Ia tersenyum manis beriring teduh matanya memandangku, ia genggam tanganku, dan getaran cintanya merasuki jantungku. Degup dadaku menampilkan cinta, memberi perintah padaku untuk hampiri ia, lalu kukecup lembut keningnya. Wajahnya bersemu merah, pipinya meranum jengah, ia berlari kecil masuk ke rumah, hatiku bertabur harum kembang melati indah.
Tanpa malu, sinar mentari luruh di wajahku, wijaya gagah, di tampan Arjuna Indra Putra, sejati diriku selaku Janaka, dengan tegap langkah menuntun kemilau putih gajah, ke gapura pagi cerah. Ayun kakiku pada lengan selah, menggugah hidup mesin skuter gajah, di dapur pacu api menyala, berderum megah mesin Vespa. Sejenak kusesuaikan suhu daya gerak Piaggio, lalu aku dengan santun mengendarainya, untuk berwisata bathin ke desa-desa seputaran Jogja.

Ternyata pada Piaggio Vespa lama, kelenturan daya redam suspensi klasik Vespa, sungguh nyaman menjamah tanah, lengan ayun muka dan belakang, sempurna berlenggang, didukung monoshock tunggal. Badan skuter ini menyatu dengan tubuhku, karena kerangkanya melebur dengan bodinya, menyatu monokok, menohok aku tidak ragu meliuk lincah dan laju. Aku ingat, dahulu aku pernah terjun bebas masuk sawah, ketika berusaha mengejar ayahku yang melaju dengan skuter ini. Sepeda motor yang kupakai tak bisa mengikuti kelenturan bodi dan suspensi Vespa ini, karena sepeda motorku berkaki empat suspensi, terlambat mengantisipasi daya tekuk di tikungan pada kecepatan tinggi. Kekagumanku atas karya jiwa bijaksana, memahami tata fisika gerak alam, yang ditampilkan pada ini Vespa, menumbuhkan rasa sayang untuk merawatnya.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Kebijakan Cinta Pada Karya Lama, Bagian 19


