Cinta Menawan Mata Jiwa, Bagian 20
Aku arahkan setangnya ke kiri, aku dan gajah putih masuk ke jalan Kyai Mojo, lajunya aku rendahkan, karena jalan menurun, serta banyak kendaraan berlalu lalang. Setelah itu, kembali jalan mendaki, aku oper gigi, gajah putih pelan bergumam, namun lincah laju melumat tanjakan. Kami menuju ke arah Godean, mulai banyak rumah toko di kiri-kanan, aku harus berhati-hati, sebagai wujud rasa hormat kepada keselamatan banyak jiwa, sebab jiwa-jiwa di sekitarku adalah karya cipta Sang Agung Maha Pencipta.
Kira-kira dua puluh meter di depan, seorang gadis ber-cheongsam, baju mandarin China, warna biru berpadu celana panjang hitam, melambaikan tangan, aku mendekat perlahan.
"Hai, Galuh, mau kemana kamu? Ayo mampir dong, ke rumahku! Minum dulu, barangkali cincau hitam dengan air madu, baik buatmu."
"O, kamu, Maryati, hari ini aku pangling. Kamu cantik, seperti Gong Li!"
Kami saling senyum, bahagia berkulum kumpul, rasa senang bertaut simpul di anyaman pandang kekaguman, disulamkan pada kesan pertemuan.

Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Cinta Menawan Mata Jiwa, Bagian 20


