Skuterku taat mematuhi gerak hatiku, ia melayani semua ulah tangan dan kakiku pada gas, tuas transmisi, juga pedal rem. Wujud pemahaman fisika gerak alam, memadu, pasti nyata, pada kenikmatan berkendara. Bahkan ketika bertambah lajunya, skuter ini seolah merunduk mendekat tanah, membuat udara tidak menghambat lari kecepatannya. Sudah empat dasa lebih dua warsa, gajah putih milik papa merawat cinta, antara aku dan papa. Sifat kesatriaan ayahku sepertinya kuat hidup pada antik pesonanya, membuatku bersyukur hormat, karna Vespa tua warisan papa, setia mengasuhku di masa remaja menuju dewasa.

Aku arahkan setangnya ke kiri, aku dan gajah putih masuk ke jalan Kyai Mojo, lajunya aku rendahkan, karena jalan menurun, serta banyak kendaraan berlalu lalang. Setelah itu, kembali jalan mendaki, aku oper gigi, gajah putih pelan bergumam, namun lincah laju melumat tanjakan. Kami menuju ke arah Godean, mulai banyak rumah toko di kiri-kanan, aku harus berhati-hati, sebagai wujud rasa hormat kepada keselamatan banyak jiwa, sebab jiwa-jiwa di sekitarku adalah karya cipta Sang Agung Maha Pencipta.

Kira-kira dua puluh meter di depan, seorang gadis ber-cheongsam, baju mandarin China, warna biru berpadu celana panjang hitam, melambaikan tangan, aku mendekat perlahan.

"Hai, Galuh, mau kemana kamu? Ayo mampir dong, ke rumahku! Minum dulu, barangkali cincau hitam dengan air madu, baik buatmu."

"O, kamu, Maryati, hari ini aku pangling. Kamu cantik, seperti Gong Li!"

Kami saling senyum, bahagia berkulum kumpul, rasa senang bertaut simpul di anyaman pandang kekaguman, disulamkan pada kesan pertemuan.

Dewi Kwan Im, ratu bintang samudra

Kenya Maryati Dewi, memandu arah gerak Arjuna Indra Putra, mengikuti gerak langkah kaki panjang, melenggangkan tubuh berbaju sutra biru berornamen putih burung Hong, menyejukkan kalbu. Sambil berjalan, ia menoleh kepadaku, sipit matanya, mungil mancung hidungnya, merah muda kecil bibirnya, langsat kuning kulitnya, bagai Kwan Im berjalan di atas awan. Tangannya gemulai membuka pintu gerbang halaman rumah Tionggoan-Belanda, sambil kembali tersenyum, mengisyaratkan agar aku masuk, di pelataran depan dekat tangga pintu utama, ada vas tumbuhan rose berbunga tiga mawar berwarna putih, merah, dan emas, menawan mata jiwa.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com