Pagi-pagi benar, aku di atas sahabatku yang penuh setia memikulku, Super Sport Rally-200 1967, Vespa klasik yang tak pernah tua, memasuki wilayah bertetangganya Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kunikmati sungguh hembusan angin yang menyambut laju rinduku. Di atas scooter jiwaku gelisah, menata ulang kenang-kenangan tercantik dalam hidupku, sewaktu Sang Cinta yang menghidupi ayahku, memerintahkan ia, untuk sering mengajakku pulang ke Jogja.

Ketika scooter-ku memasuki wilayah sawah dan pertanian, aku melihat pepadian melenggang dan kudengar ramai suara pipit kecil bersahutan. Bunyi jantung scooter memutar rodanya, menggetarkan nadi-nadiku, karena darahku berlari cepat menyampaikan rinduku kepadamu, Jogja. Rinduku demikian kuat, berjingkat-jingkat sepanjang perjalanan cintaku, melewati pukauan mata melihat batang-batang tebu, jagung, dan ketela pohon, yang melukiskan karya lukis terbaik dari Sang Cinta, sepanjang Kutoarjo menuju Purworejo, Purworejo menuju Sentolo, sampai ambang masuk pintumu, Jogja.

Senja di Pintu Jogja

Sementara itu, aku percaya, kekasihku sedang berbinar-binar membayangkan pertemuan denganku di Jogja. Ia tengah mereka-reka awan dan lelangitan, juga atap-atap rumah kampung yang dikelilingi kumpulan pepohonan, memacu hatinya untuk membuat sepoci teh wangi dan manis, karena cinta meresap di situ. Aku bayangkan cinta kekasihku gemetaran, karena dipacu deru mesin kereta terbang, yang begitu ingin menapakkan kerinduannya kepada tanah Jogja di Adisucipto, karena cinta-cinta yang gelisah beterbangan, akan hinggap di Jogja.

Ahai...! Aku gembira mengagumi senyumku yang dipantul cermin spion di hadapanku, dan sisirku lincah berdansa menata helai-helai rambutku, karena aku tahu, kami tengah mencari waktu untuk bertemu.

Di atas roda mungil yang tengah bergulir mengantarku pulang, aku bayangkan kekasihku sedang duduk gelisah karena kegirangan di perjumpaan. Ia sedang mengaduk batu gula di cangkir tanah, sambil menyeduhkan harum teh dari poci, di beranda rumah eyang.

Beranda rumah eyangku, penuh dengan rumah-rumahan kecil dari kayu dan bambu beratap rumbia, dimana dari dulu aku sering mengecup dahi kekasihku di situ. Kami juga sering makan ramuan cinta, pada waktu sarapan, makan siang, bahkan juga makan malam. Ramuan cinta di rumah eyang, adalah kumpulan ramuan makanan Mataram, yang sungguh aku percaya, adalah kebijaksanaan cita rasa yang amat surgawi mewujud di bumi. Kami sering melayang-layang dalam keterpukauan rasa masakan rumah eyang, yang berabad-abad silam menggulirkan keindahan, masuk ke dalam kekuatan para ksatria dan seniman.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com