Cinta Tiga Mawar Bunga, Bagian 21
Langkah kakinya pendek-pendek, lincah memasuki lorong ruang tengah, bertiang kayu dengan cat berwarna krem yang apik terjaga berwibawa. Di ruang tamu, kursi jati kayu berlandas anyaman lentur rotan, menyangga pinggulku, nyamanlah bersandar punggungku, sedang mataku enak memandang lukisan-lukisan gaya Tiongkok di dinding tembok. Lamat halus suara nyanyian Gendhing Ketawang Sekaring Puri (Pelog Barang) melantun dendang jiwaku, lewat telingaku musik indah itu menambat kalbu, tersampaikan dengan apik, melalui kotak-kotak suara di tiap pojok ruang rumah Tionggoan. Di ruang ini, nyatalah perkawinan budaya Jawa-China, menjadi tanda kesepakatan manusia memuliakan hidup, bahwa pada hidup itu, budaya-budaya dilahirkan untuk saling menarik satu sama lain, setiap etnik unik menarik lain etnik, wujud nyata cinta Tuhan amat menarik.
Aku terperangah, jiwaku mengidungkan madah, Kenya Maryati Dewi kini berpakaian biru kemeja, batikan pesisiran seni pecinan, riuh menampilkan guratan lukis bungaan batik, bersalut warna putih, merah, dan emas.

"Kenapa, Galuh? Ini lho, minuman cincau bermadu yang aku janjikan. Ayo, coba dong, pasti asyik rasanya!" Ia sodorkan mangkok keramik hijau muda berisi minuman itu sambil memandangku, makin tampaklah kecantikannya, memacuku bergelombang madah bagi Tuhan Maha Indah.
Ternyata bersama minuman yang aku reguk lewat putih sendok keramik Tiongkok, Siaocia ramah menawan nan bersahabat ini, berkabar ingin ikut bersamaku, menilik pandang desa-desa yang memagar Jogja. Karena konon menurutnya, banyak dari kita tidak menyadari bahwa desa adalah ibukota dari semua kota. Sesungguhnya, desa sebagai ibu, memberi kebutuhan pangan kepada kota, dan tanpa desa, tidak ada kayu, bahkan tebu, yang bisa membangun tata bentuk bangunan kota, juga manis gaya gerak daya hidup di kota. Ia pergi ke luar, ke arah tangga pintu utama, dan ketika kembali, tiga mawar bunga tampil di dadanya, digenggam lentik jari-jemarinya.
"Galuh, Arjunaku, kamu sahabatku. Engkau punya sifat berani tampil seadanya, juga tangguh mewujudkan kebaikan tanpa gentar, namun ternyata agung, karena cinta menjadi kehormatan." Bersamaan kata-kata itu, ia sematkan tiga mawar putih-merah-emas, di saku depan kemeja ungu punyaku.
"Darimana kamu tahu, Maryati? Jangan buat jumawa menguasaiku!" seruku.
"Tidak, aku tahu siapa kamu. Intuisi keperempuananku sudah mengikutimu dari pertama kita bertemu." Wajahnya bercahaya ketika berkata-kata, indah penaka bulan, cerah berkilauan bagai fajar kemerahan memikat jiwaku.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Cinta Tiga Mawar Bunga, Bagian 21
