Di peristiwa perjumpaan pagi ini, jiwaku dipikat, dengan keramahan Kenya Maryati Dewi, persahabatan terikat ketat. Perkawinan etnik budaya yang dahulu kurang kupahami, sekarang seperti terang matahari ini pagi, tampak bersinar senang, karna gumpalan awan kelam terbelah, keabu-abuannya berpencaran sudah.

Aku sedang merokok dan berkepul asap tembakau, seseorang datang bercelana pangsi dan berkaos oblong, sambil menghisap cangklong. Inti dari perkawinan budaya ini nampak, menghasilkan anakan sopan laku yang nyaman, dinyatakan sewaktu Sudhana Halim, ayah Maryati Dewi, menyapaku halus, memperkenalkan diri dengan sikap tulus. Di ruang tamu rumah tionggoan Pak Halim, asap kepulan dari pipa galih Nagasari milikku, bercanda gurau dengan asap dari cangklong, menghamburkan bau harum aroma tembakau mempesona kalbu. Dipukaukanlah kami menarikan rasa, bahasa hati saling bicara, keunikan masing-masing cita rasa bercengkerama. Oleh keramahtamahan, terpanahlah sang rasa untuk hormat menjulang, kesombongan punah daya terkekang, prasangka berlarian hengkang. Sangatlah sederhana dan mudah, di tiap orang kala berteman, bersikap syukur, di situ nyatalah hadir tafakur.

Pipa cangklong tembakau

"Galuh, sebelum kamu dan Maryati lahir, dahulu papi sering pergi ke dusun-dusun untuk mencari gula aren dan kelapa, kemudian dijadikan dagangan kebutuhan pasar. Sama seperti opa Maryati, yang juga bandar gula aren dan kelapa, kami punya tradisi keluarga, sebagai juragan gula jawa. Gula jawa ini dari aren dan kelapa, sebetulnya amat baik buat kesehatan gigi dan stamina, karena sangat berbeda dengan putihnya gula buatan, yang secara kimia merusak tubuh kita. Demikian juga, gegulaan jawa ini sama baik dengan gula batu tebu yang masih berwarna agak coklat. Oleh karena itu, kami masih berusaha berjualan semua ini, baik gula jawa dan gula batu, sebab sangat menguntungkan sehatnya masyarakat, dan secara baik mendapatkan laba."

Gula aren kojor

Papi Sudhana Halim telah membuatku berusaha alim, dengan merenungkan sifat dan sikapnya mengarungi hidup, berdagang sebagai juragan gula. Dia tak lupa untuk selalu menjaga tata rasa jiwanya, sehingga tidak sekadar mencari laba, di situlah diwartakan keindahan agung, pemahaman budaya China-Jawa, dan kesantunan pola laku Jawa-China. Ia sungguh pedagang ulung, yang pandai sangat berhitung, ahli kang-thau, ia harus untung ketika petani tidak buntung. Sebab menurutnya, semua urusan dagang akan beranak pinak kembangan rantaian pasaran dagang, jikalau semua pihak menuai panen keuntungan. Dengan sikap seperti itu, bila terus menerus bergerak bergelombang cara santun dagang, akan menumbuhkan mandiri Jogja, menampakkan Jogja Mandiri.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com