Sementara Pak Halim dan aku masyuk berembug, Maryati Dewi datang, merah muda katunan jaket melapis badannya lengket. Kenya ini manis, senyumnya dekik, pancar wajahnya menarik, dagunya bergaris belah, alunan kakinya anggun melangkah. Aku dan Pak Halim, ayahnya, seperti paduan cello, contrabass, dan biola alto, yang ber-chorus merdu, terpesona lengking cantik menggelitik sang soprano biola. Mungkin juga, bisa jadi, di dalam Papi Sudhana Halim, rasa bangga berputri dewi cantik, bagai gerak nada berurutan menggubah harmoni, dan pasti yang aku tengah rasakan, sekarang ini bunyian arpeggio harpa bergaung lembut di dadaku. Lagu Blue Danube tiga per empat mampir di hati kami, seperempat kesadaran sukma terpana, seolah tengah di tepi danau biru, melihat angsa-angsa bercengkerama renang.

Blue Danube swans

Interval register di jiwa Pak Halim berkata, "Maryati, alangkah baiknya kalau hari ini Galuh mau pakai Rexus King papi, sebab sudah lama Yamaha ini tidak berlanglang buana."

Dengan penuh rasa dinamika kontra melodi, aku menyahut, "Papi Halim, saya merasa terhormat karena diperkenankan merasakan RX King Yamaha, yang pasti sudah melegendakan legenda perjalanan hidup Papi."

"Ayo sudah, cepat keluarkan si kuda hitam itu dari garasi. Jangan lupa periksa tangki dan lihat pelumas oli samping, nanti kau akan tahu, betapa RX King ini nikmat dan gagah." Sambil mengucap kata-kata itu, ayah Maryati memandangiku, menanamkan pesan bahwa sepeda motor ini kendaraannya tersayang.

Ketika semua persiapan yang ia pesankan sudah aku laksanakan, kutuntun keluar si gagah kuda hitam ini, masih menampakkan kemilaunya chrome di semua velg dan setang serta shockbreaker-nya, cat warna hitam bodinya juga tetap berkilat seolah baru dari toko diangkat. Aku puji perawatan yang telah dilakukan secara bertahan, menunjukkan bersyukurnya sebuah jiwa, atas diperkenankannya jiwa itu mendapatkan barang yang diinginkan, bukan saja karena hasil kerja, tetapi penuh sadar bahwa Allah memberkati kesungguhan kerjanya. Maka atas pemahaman ini, aku dengan penuh kehati-hatian memanaskan mesinnya dengan kunaikkan gas perlahan, memberi kesempatan pelumasan oli samping melancarkan kinerja setang lengan ayun, piston dan ring pada dinding silinder mesin RX King. Berbeda dengan Vespa yang memakai rotary system untuk menghantarkan oksigen dan bahan bakar, Yamaha ini memakai double valve mengatur bensin dan udara, juga menambah kecepatan daya luncur dengan induksi balik sisa pembakaran di tabung YIS (Yamaha Induction System). Aku lihat knalpotnya berasap tipis, yang tak lama kemudian asap itu menghilang, ini menunjukkan bahwa seluruh cara kerja pelumasan dan pembakaran energi di mesin dua langkah ini masih amat sempurna. Suara mesin dua-tak ini ternyata lebih halus daripada suara mesin empat-langkah, karena tidak ada benturan templar valve dan knoken as. Memang sebetulnya apabila semua sistem tepat guna pada mesin dua tak ini, getarannya pun halus, nyaris tak terasa di tangan, apabila oli campur pembakaran ber-SAE 30/40 dipertahankan.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com