Garputala adalah alat untuk menala ukuran nada alat-alat musik pada umumnya, maka garputala silang, lambang Yamaha di tangki RX-King, amatlah menyatu dengan suara mesin berdesing, di muara knalpot belakang bunyinya berdering. Angin berdesir-desir, sepanjang jalan mataku dan penglihatan Maryati menyisiri panorama tersendiri. Aku dengar suaranya memberikan tanggapan keindahan matanya memandang, terdengar jelas menghiasi ruang telinga, meski ia membonceng di belakang. Baru kusadari kuatnya jiwa bersahaja Maryati meluncurkan makna kata, meski nyata mungil mulutnya, rupanya unik irama perjalanan menjelang tengah siang jadi penyebabnya. Bisa aku tebak ia kehausan, dari transparan kaca depan helmnya, kulihat wajahnya bersemu merah, tampil di spion depan tertangkap basah. Kami berhenti di Pasar Godean bagian depan, ada penjual minuman dawet manis pakai santan, dua gelas kami pesan. Di setengah pejam mataku nikmati segar dingin minuman ini, aku lihat kesulitan Maryati sembunyikan kehausannya, dawet manis berteguk suara di jenjang lehernya. Wah... ini sungguh payah, kalau Mitha lihat, pasti ia marah! Untunglah aku, hari ini sendirian berkelana, ternyata misteri kehidupan, setiap hari selalu berjalan.

Haus kami hilang sudah, dengan tangan di setang depan, RX-King kuhela sambil melangkah, temanku si gadis cantik itu, membantuku mendorong bagian belakang tanpa rasa jengah. Berjalanlah kami kira-kira seratusan meter dari pasar, ke arah jalan menuju Klepu, setelah lewat kios reparasi tas dan sepatu, ada jalan ke kanan dan kami masuk ke sana. Pada sebuah tua pemakaman jawa, gerak kami berhenti mengayun langkah, Kenya Maryati penuh pandang tanya, matanya bening mencari jawab kata.
"Temani aku ya, Maryati, sudah lama aku tak kesini. Ingin kuucapkan syukur kepada Sang Hyang Widhi, karena eyang putri yang dimakamkan di sini, menurunkan ibuku yang melahirkan aku terwujud di bumi."
"Kalau tahu begini, kan, tadi bisa mampir beli bunga dulu, gimana sih kamu itu?" ujarnya.

Aku tanggapi gerak hatinya itu dengan halus rasa, seraya berkata, "Tidak seorang pun menjadi pantas dikarenakan menaburkan bunga, namun menebarkan syukur kepada Gusti Allah atas leluhur kita, yang diperkenankan pulang menghadap-Nya, pantas kita ucapkan dalam doa, sebagai wujud kita juga leluhur kita yang sama tak sempurna. Oleh karena itu, sekarang dan selamanya kita patut mengakui membutuhkan berkat pengampunan-Nya, supaya kita selalu mengarahkan hati menyembah-Nya."

Di depan makam batu nenek dan moyangku, aku berdoa syukur karena Allah Tuhanku mencipta mereka semua, sebagai rencana agung cinta-Nya, supaya secara alami aku mewujud di bumi, menyembah-Nya dengan melakukan kehendak-Nya, menjaga bumi dan berbuat cinta welas asih kepada sesamaku para manusia dan segenap makhluk.

Sebagaimana Maryati berdoa di sampingku, didukunglah aku olehnya melantunkan doa, nyatalah di situ dua pribadi tak sempurna, ditampakkan fungsi manusiawinya, supaya selalu bersama menyembah kepada Sang Maha Sempurna, Gusti Allah sendiri.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com