Tak Sempurna Menaburkan Cinta, Bagian 24

Haus kami hilang sudah, dengan tangan di setang depan, RX-King kuhela sambil melangkah, temanku si gadis cantik itu, membantuku mendorong bagian belakang tanpa rasa jengah. Berjalanlah kami kira-kira seratusan meter dari pasar, ke arah jalan menuju Klepu, setelah lewat kios reparasi tas dan sepatu, ada jalan ke kanan dan kami masuk ke sana. Pada sebuah tua pemakaman jawa, gerak kami berhenti mengayun langkah, Kenya Maryati penuh pandang tanya, matanya bening mencari jawab kata.
"Temani aku ya, Maryati, sudah lama aku tak kesini. Ingin kuucapkan syukur kepada Sang Hyang Widhi, karena eyang putri yang dimakamkan di sini, menurunkan ibuku yang melahirkan aku terwujud di bumi."
"Kalau tahu begini, kan, tadi bisa mampir beli bunga dulu, gimana sih kamu itu?" ujarnya.
Aku tanggapi gerak hatinya itu dengan halus rasa, seraya berkata, "Tidak seorang pun menjadi pantas dikarenakan menaburkan bunga, namun menebarkan syukur kepada Gusti Allah atas leluhur kita, yang diperkenankan pulang menghadap-Nya, pantas kita ucapkan dalam doa, sebagai wujud kita juga leluhur kita yang sama tak sempurna. Oleh karena itu, sekarang dan selamanya kita patut mengakui membutuhkan berkat pengampunan-Nya, supaya kita selalu mengarahkan hati menyembah-Nya."
Di depan makam batu nenek dan moyangku, aku berdoa syukur karena Allah Tuhanku mencipta mereka semua, sebagai rencana agung cinta-Nya, supaya secara alami aku mewujud di bumi, menyembah-Nya dengan melakukan kehendak-Nya, menjaga bumi dan berbuat cinta welas asih kepada sesamaku para manusia dan segenap makhluk.
Sebagaimana Maryati berdoa di sampingku, didukunglah aku olehnya melantunkan doa, nyatalah di situ dua pribadi tak sempurna, ditampakkan fungsi manusiawinya, supaya selalu bersama menyembah kepada Sang Maha Sempurna, Gusti Allah sendiri.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Tak Sempurna Menaburkan Cinta, Bagian 24
