Setelah cukup waktu kami berdoa bersideku, Kenya Maryati Dewi dan aku beranjak pindah, berkunjung ke makam-makam sebelah yang tengah nampak adhem teduh.

“Arjuna, Galuh rasa hatiku, kamu sahabat baru, membuatku terpaku, pandang matamu mengundang tanyaku, seperti kamu berpikir sesuatu?” Suara Maryati Dewi melantunkan hormat martabat keperempuanannya, sebagai rekan kerja di perjalanan mengolah lahan kenang-kenangan, yang bertunas bibit berhumus pupuk, kisah tutur indah budaya Jogja.

“Kenya-ku Maryati, lihatlah makam-makam ini tidak pernah mati, meski tiada nampak bergerak, namun sesungguhnya mereka hidup menggerakan kehidupan tanah bumi.” Aku, Arjuna Indra Putra menjawab, memadahkan kidung Sabda. Seperti biasa, seorang Kenya Maryati Dewi menangapi perkataanku dengan bahasa mata teduh dan mimik tubuh, wajah, Kwan Im kagum jengah, karena Thian memerintahkan hatinya untuk ikut bermadah.

Seringkali kita tidak memahami, bahwa di muka bumi tidak pernah ada yang mati, sesuatu yang hidup setelah usai masa perannya, akan beralih tugas, berbentuk daya hidup, bekerja sama dengan kinerja hidup alam semesta. Seseorang yang telah diperkenankan menghadap Sang Khalik, rohnya mempunyai pertanggungan jawab sendiri kepada Allah. Tubuhnya masuk ke tanah, semua unsur molekuler raganya terurai, mencari rekan baru dengan molekul-molekul di tiap unsur tanah.  Maka karena bekerja samanya tiap molekul sejenis yang saling mengikat bertaut gerak, gabungan macam himpunan molekuler menggerakan tata tinggi peradaban di dalam tanah, mereka susun kebutuhan kehidupan, di dalam dan di permukaan tanah. Seperti biji yang mati dan jatuh ke tanah, ia akan hidup diberi daya oleh kekuatan berbagai unsur tanah, biji itu menjadi tunas, kelak beralih rupa pohon dewasa, berkembang dan berbuah limpah menghidupi kebutuhan hidup di sekitarnya.

Onion seed head

Rupanya bathin Maryati penuh memahami bahasa roh yang kusampaikan, meski tanpa kalimat susunan kata. Ia sungguh seorang  padmiranti  sejati, waluya arsih  yang diwujudkan, sebagai misteri penuh arti bagiku dalam perkenalan ini. Oleh karena bersyukurnya jiwaku, sebab dengan Maryati Dewi aku bertemu, aku jabat hatinya, aku genggam tangannya, aku sajakkan terimakasih puisi, memasuki telinganya, hormat memuji hatinya.

“Sudahlah Arjuna, aku juga bersyukur punya teman seperti kamu, siang ini hal-hal baru memahami hidup, telah kamu beri.” Kenya Maryati Dewi mengusap perutnya, rupanya lapar menyampaikan isyaratnya. Aku tanggap akan sasmita pertanda, bahwa ia harus kupenuhi kebutuhan martabat manusianya, yang tidak boleh aku lupakan, ia dan aku harus makan.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com