Kuda RX-King hitamku, seperti kelebihan hasrat, berlari menaklukkan cantiknya jalan berliak-liuk tinggi rendah, dihiasi berlaksa ribu mempelai tetumbuhan, dengan wujud cinta yang saling menarik pada putik dan tepung sari bebungaannya. Kelak, persatuan tepung sari pada kepala putik, akan memeram seluruh kekuatan matahari, air, udara, dan tanah, menjadi matang menyembah kepada jagad semesta. Bentuk penyembahan itu, nyata diwujudkan sebagai mahakarya seni tatah yang bernama, buah. Seni-seni tatah hasil perkawinan bunga jantan dan betina, menandakan bahwa ia akan berbondong jumlah, menyamankan, mengamankan, kebutuhan daya hidup di tiap manusia dan segenap makhluk di jagad buana. Aku dan Maryati Dewi, yang tengah menjamahkan tangannya bertaut jemari melingkariku di pinggang, memadukan dua hati kami, memerintah mulut kami berdendang lagu kesayangan tentang Ngayogyakarta Hadiningrat, seni tatah gubahan manusia, yang menanggapi kesetiaan berlaksa seni tatah tetumbuhan di gunung dan lembah, menimangnya, sebagai wujud Tuhan setia menatahkan cinta-Nya.

Ternyata perjalanan kami pulang, menuai banyak indah berkah. Sewujud dengan kesadaran akan rasa haus dan lapar, kami diperkenankan merasakan kenyataan kehidupan, bahwa kami tak punya kuasa untuk selalu perkasa. Maka di simpang empat antara Pasar Godean ke Seyegan, Sedayu, Jogja, dan Kulonprogo, aku hentikan RX-King, karena perut kami memerintahkan mata kami menangkap tanda kenyamanan pada sebuah rumah makan. Aku dan Maryati Dewi saling menuntun kuda besi kami untuk turut beristirahat.

Home garden in Joglo of Jogja

Maryati Dewi menampakkan cantik mulut mungilnya mengunyah ayunya rasa makanan, sedang aku sigap melumatkan hidangan dengan gagahnya geraham geligiku. Ketika keelokan makanan menampilkan kecantikan tarian rasa di lidah kami, mata kami saling bertautan, dan nyatalah para malaikat menaburkan harum agung Cinta Surga mewujud di bumi. Setiap tampilan wajah kami menyantap hidangan, adalah cermin bahwa kita selalu membutuhkan nilai hidup ragawi, sebagai wujud hidup rohani menguasai jiwa dan raga, di situlah diwartakan, Surga menguasai bumi.

A home garden in Vienna

Di tengah-tengah nikmat paduan rasa makanan, aku terkenang tengah makan di dekat ladang, pada sebuah rumah berabad umurnya, dengan taman hijau rumputan berhias bebungaan mawar putih, merah, emas, dihibur paduan merdu akordeon, biola, flute, dan klarinet di Austria. Maka, rasa dari kolak bergula aren kawin-mawin dengan kenangan asam manis minuman anggur Eropa Austria. Jauh di dalam hati, aku menyadari, kalau keindahan tata budaya Jawa Ngayogyakarta Hadiningrat, sungguh sama kuat dan moderennya dengan Austria, jika aku selaku manusia Jawa, berani tampil sebagai orang Jawa Jogja seutuhnya, tidak kehilangan pemahaman keagungan jati diri budayanya. Kenanganku akan Austria mencelikkan aku, bahwa bangsa yang sungguh moderen adalah bangsa yang tidak kehilangan jati diri pribadi bangsanya.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com