Kumpulan Tatahan Cinta, Bagian 27
Ternyata perjalanan kami pulang, menuai banyak indah berkah. Sewujud dengan kesadaran akan rasa haus dan lapar, kami diperkenankan merasakan kenyataan kehidupan, bahwa kami tak punya kuasa untuk selalu perkasa. Maka di simpang empat antara Pasar Godean ke Seyegan, Sedayu, Jogja, dan Kulonprogo, aku hentikan RX-King, karena perut kami memerintahkan mata kami menangkap tanda kenyamanan pada sebuah rumah makan. Aku dan Maryati Dewi saling menuntun kuda besi kami untuk turut beristirahat.

Maryati Dewi menampakkan cantik mulut mungilnya mengunyah ayunya rasa makanan, sedang aku sigap melumatkan hidangan dengan gagahnya geraham geligiku. Ketika keelokan makanan menampilkan kecantikan tarian rasa di lidah kami, mata kami saling bertautan, dan nyatalah para malaikat menaburkan harum agung Cinta Surga mewujud di bumi. Setiap tampilan wajah kami menyantap hidangan, adalah cermin bahwa kita selalu membutuhkan nilai hidup ragawi, sebagai wujud hidup rohani menguasai jiwa dan raga, di situlah diwartakan, Surga menguasai bumi.

Di tengah-tengah nikmat paduan rasa makanan, aku terkenang tengah makan di dekat ladang, pada sebuah rumah berabad umurnya, dengan taman hijau rumputan berhias bebungaan mawar putih, merah, emas, dihibur paduan merdu akordeon, biola, flute, dan klarinet di Austria. Maka, rasa dari kolak bergula aren kawin-mawin dengan kenangan asam manis minuman anggur Eropa Austria. Jauh di dalam hati, aku menyadari, kalau keindahan tata budaya Jawa Ngayogyakarta Hadiningrat, sungguh sama kuat dan moderennya dengan Austria, jika aku selaku manusia Jawa, berani tampil sebagai orang Jawa Jogja seutuhnya, tidak kehilangan pemahaman keagungan jati diri budayanya. Kenanganku akan Austria mencelikkan aku, bahwa bangsa yang sungguh moderen adalah bangsa yang tidak kehilangan jati diri pribadi bangsanya.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Kumpulan Tatahan Cinta, Bagian 27
