Pijar Kenangan Cinta, Bagian 28
Bersama temaramnya senja di pintumu, Jogja, serpih kenangan mulai berdansa, dipijar lampu tua. Ramailah orang berlalu-lalang, melepas letih seharian. Mulai terbayang kisah idaman, daku dan kekasih pujaan. Aku berdendang girang lagu riang tentang Jogja. Pada lagu ini dituturkan, keunikan suasana Jogja senja menuju malam. Jika saja Sang Allah Maha Kuasa memperkenankan, maka ramainya jalanan yang kulewati dipenuhi orang-orang lalu-lalang dengan sandangan Jawa Jogja, dengan kereta-kereta kuda berpenumpang gadis-gadis cantik dan para priyayi sejati, saling bertegur sapa, bersenyum simpul dibingkai rangkaian agung kenangan bangunan masa silam, semua kesedihan akan temaram. Aku berandai-andai sebagai orang Austria yang sedang berkunjung ke Jogja, termangu-mangu dan kagum, karena ternyata ada keindahan khas yang sangat menawan namun berbeda, tetapi mempunyai mutu yang sama kuat indahnya dengan Vienna.

Imajinasiku lincah berayun dansa, seperti ketika mendengar Blue Danube, tentang girangnya angsa-angsa berenang dan bercanda di danau kehidupan. Maka, rasa bakpia Pathuk yang masih sungguh asli kekentalan rasa Jogja-nya di lidahku, riuh menyemarakkan khayalanku, seolah aku mendengar merdu ramai tembang dolanan bocah di tiap sudut kota Jogja. Mulai dari tadi, ketika aku sampai di rumah eyang, suara tembang dolanan sudah muncul dari suara Sasmita, pada waktu ia menghantarkan teh poci bergula jawa. Pukul setengah tujuhan malam ini, kelenturan badan Humber RR buatan Birmingham England tahun 1920, menyikapi tepat ayunan kakiku pada kedua pedalnya. Aku dan Sasmita masyuk hening berkendara sepeda tua ini, memang sangat menyatu dengan misteri putih gading tembok pojok beteng kidul kraton. Sepeda-sepeda tua seperti ini, banyak menjadi koleksi dan tetap dipakai di banyak negara di Eropa. Amatlah tepat, jika becak dan kereta kuda khas Ngayogyakarta Hadiningrat, bersandingan dengan orang-orang Jawa berbusana sentuhan Jawa, duduk menggerakkan, mengarahkan, dan mengatur kemudi arah tujuan sepeda tua Eropa. Karena keanggunan tata pakaian dan sikap gerak sentuhan Jawa seimbang martabatnya dengan indah karya tepat guna pada sepeda tua ini, kereta kuda dan becak adalah kegagahan kesantunan khas sejarah Jawa-Jogja, memperkuat hati untuk berani tampil dengan jati diri sebagai bangsa Jogja. Senyata-nyatanya kita harus sama martabatnya dengan bangsa-bangsa yang tidak kehilangan jati dirinya. Aku ingat juga ketika aku berkeliling Eropa, banyak sekali bangunan bersejarah yang beralih guna menjadi pusat belanja wisata, namun tetap dijaga keasliannya dan tidak dirubuhkan, karena justru pada keelokan asli sejarahnya, Tuhan memberikan banyak berkah pada suatu bangsa, karena bangsa tersebut menghormati perjalanan sejarah adalah karya misteri Tuhan sendiri.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Pijar Kenangan Cinta, Bagian 28
