Malam minggu ini, Sasmita tampak sekali riang. Aku, Galuh Arjuna Indra Putra, dengan penuh penghargaan akan cinta Mita, kunyatakan dengan segala perasaan, kukayuh sepeda tua ini membawa dia keliling kota Jogjakarta. Bunyi detik-detik dari gear box di bagian belakang sepeda, seperti decak kagum meningkahi gandengan hati kami, yang sarat cinta lelaki dan perempuan. Nyatalah sudah kemutlakan bahasa alam dihadirkan, ada matahari, ada bulan, ada udara, ada air, ada pula bumi dengan segala isinya, tumbuhan, dan berbagai makhluk hidup, juga manusia. Selama perjalanan keliling Jogja, kami melihat bermacam wajah manusia Jogjakarta. Ada yang bergembira, namun tak kurang, banyak pula yang sedang bersedih duka. Semua wajah duka aku tangkap masuk ke dalam hatiku, aku jadikan persembahan doaku yang amat sangat tidak sempurna, dengan kesederhanaan kuhaturkan sebagai persembahan pemahaman hidupku, kepada Allah Sang Khalik. Di inti hatiku, aku sudah tak layak untuk selalu memohon kepada-Nya, karena Beliau sudah selalu memberi di tiap waktu hidup ini. Keprihatinanku melihat wajah-wajah sedih tadi, adalah karena aku hidup dan diperkenankan mengalami melihat peristiwa ini. Oleh karena itu, segala peristiwa tadi berasal dari misteri Penyelenggaraan Ilahi, dan hanya kepada-Nya segala sesuatu pergulatan bathin kupersembahkan. Karena aku percaya, hanya Dia yang dapat menata ulang seturut kebijaksanaan-Nya.

Daun teh hijau

Banyak kali aku sering terlalu kagum atas segala sesuatu penemuan intelektualitas manusia, aku kagum akan Harley-Davidson, aku terpana akan Ducati, Vespa, Boeing, Ford GT, satelit komunikasi, dan banyak hal gubahan manusia. Namun setelah kurenungkan, kenapa aku tidak kagum kepada manusia? Karena tidak seorang pun manusia dapat menciptakan dirinya sendiri. Bahkan mungkin itu terlalu dalam, karena sampai hari ini, tidak satu pun bangsa manusia di belahan bumi manapun, mampu membuat daun yang sungguh hidup, menghidupi seluruh tumbuhan. Ternyata, kita selaku manusia, tengah menurunkan martabat kemanusiaan kita, ketika kita tidak menghormati dan merawat alam dengan segala peristiwa sejarahnya. Amatlah sering kita sebagai manusia ingin mutlak mengatur hidup kita, merasa kita bisa membenahi kesehatan manusia lainnya, bahkan juga sering kali ingin mengatur irama kegiatan hidup orang lain. Kita sering pula memaksa menaklukkan alam, dan kita lupa bahwa kita bagian dari keseluruhan alam. Memang, alam semesta diciptakan untuk manusia. Sudah layaklah, manusia merawat dan menghormatinya, oleh karena itu sudah layak dan sepantasnya manusia musnah ragawi, bila manusia tidak hormat merawat alam bumi dengan cinta. Aku sebagai manusia akan menjadi cerdas luar biasa bila aku menyadari sangat membutuhkan dan menyembah Allah, bukankah segala pengetahuan kebenaran dan baik, hanya ada pada Beliau?

Dahulu, aku pernah menjadi serupa monyet, karena sering sok tahu dalam segala hal, bahkan mungkin lebih cerdas monyet daripada aku, segala irama hidup dan persepsi aku atur menurut pemikiranku. Hingga satu masa, aku tersadar ketika secara medis aku dinyatakan mati, kira-kira bertahun lalu, waktu aku mengalami kecelakaan terlalu kencang mengendarai Ducati. Sebagian besar tengkorak kepalaku retak-retak, tulang punggungku banyak remuk, bahu dan rusukku patah. Secara logika medis, aku pasti mati. Pada saat itu, rohku melayang ke satu tempat yang sungguh damai, dengan alam yang amat indah seperti alam bumi yang terjaga alaminya. Ada satu Daya yang amat teramat sangat Agung, Daya itu memerintahkan aku kembali ke tubuhku. Maka pagi-pagi benar, pada hari ketiga, aku bangun dan bangkit berdiri, aku pulih seperti sedia kala. Semua teman-temanku yang menekuni ilmu psikologi dan kedokteran, yang kala itu menunggui aku di hospital, sudah habis kata-kata, karena semua alasan keilmuan manusia diruntuhkan.

Sekarang, dengan rasa syukur aku mengakui, bahwa aku selaku manusia harus mengaku bodoh dan tidak layak, kesempurnaan adalah Allah itu sendiri. Rasa syukur ini jadi mewah dan bersahaja, ketika malam ini, dengan penuh gembira aku ajak Mita jalan-jalan sore menjelang malam, berputar-putar Jogja. Lampu sepeda Humber RR yang kami kendarai menyala cukup terang, menyambut sinar bulan mengkilaukan tetembokan putih gading istana kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com