Pancaran teduh sinar lampu sepeda Humber ini, menyatakan kecemerlangan daya gubah kesesuaian guna dan rupa, dari nyatanya keindahan cita berwujud. Sungguh aku kagumi Beliau, Sang Hyang Widhi, yang menciptakan pribadi sang penemu sepeda ini, Thomas Humber namanya, kehendak Surga yang dinyatakan di bumi, bersahaja namun mewah adanya, karena dia manusia. Tak terhitung rupa wajah manusia Jogjakarta, yang kusimpan
bersama perjalananku dan Mitha, menikmati ukiran tatah agung kenangan, di setiap sudut Jogja. Aku percaya, dalam setiap wajah, ada rencana misteri agung dari Kebijaksanaan Kangjeng Gusti Pangeran, Empunya Surga dan bumi, dari masa silam hingga hari ini. Oleh karena itu, hatiku berkidung
pisungsung, karena cintaku erat melekat pada martabat manusia, sebab disitu Tuhan mewartakan ketinggian karya-Nya, dimutlakkan dalam rupa manusia.
Dahulu, aku aktif mengorganisir kegiatan menjaga dan menyelamatkan alam. Berpuluh-puluh
event aku gubah bersama teman-teman, menjadi seminar,
charity musical show, mendatangkan sponsor finansial dari berbagai produk komersial, karena kami punya harapan. Aku dan teman-teman sering tampil dalam wawancara audio-visual, merasa bangga punya kesempatan menghimbau masyarakat khalayak ramai. Semua usaha, sungguh kami tekankan untuk berhasil, sesuai dengan semua
planning perencanaan berjangka, namun hasilnya, kami sering kecewa dan bermuram durja. Kami selalu bertanya, kenapa
sih susah amat? Padahal, apa yang kami coba,
kan hanya perbuatan-perbuatan baik.
Seiring berjalannya waktu, aku bertemu dengan jawab yang kucari, walau cukup lama dan lelah tapak-tapak jiwaku mencari meniti. Ketika aku kehilangan diri dan semua temanku pergi, Sabda Langit tak pernah membiarkanku sepi. Dinyatakan oleh-Nya, setiap aku bangun pagi, aku bisa bernafas tanpa harus membayar setiap hirupan udara, aku bisa berpikir tanpa aku harus merancang bangun alat daya pikirku, aku merasakan lapar dan diperkenankan makan. Disibakkan-Nya masa kecilku, hingga kini, aku tidak akan pernah bisa mandiri, tanpa kemutlakan dari Kehendak-Nya sendiri. Di kesendirianku, aku diharuskan untuk kehilangan diri, aku disadarkan, bahwa apa yang bisa aku perbuat, adalah karena Beliau sudah merancang, sejak ketika aku belum dilahirkan di dunia. Ternyata kepasrahan, itulah wujud dari penyembahan hidup, mengabdi kepada Tuhan, berani menyatakan, "Tuhan, daku membutuhkan Dikau!"

Sekarang ini, aku tinggal dalam hening, dan tak pernah kesepian, nyatanya di keberanianku mengakui, bahwa aku tidak sempurna, aku banyak diberi jalan untuk mewartakan keselamatan alam, tanpa harus repot membuat
event-event temu wicara. Justru, pada sikap doa syukur yang menggerakkan hidupku, dan hidupku adalah doa syukur, aku berhenti memohon segala sesuatu harus sesuai pikiranku, diperkenankanlah aku masuk ke dalam agung gaib rencana kebijaksanaan-Nya. Aku menjadi tekun dalam segala hal, tetapi tidak
ngoyo. Oh, gembira hatiku,
alhamdulillah, aku diberi jalan untuk menjaga budaya dan keselamatan alam, oleh karena aku dilahirkan kembali, sebagai manusia. Seluruh keselamatan alam bumi dan sosial budaya akan terwujud, bila tiap pribadi berani tampil dengan ketidaksempurnaan di hadapan Allah dan sesamanya. Pada kepasrahan menyembah Kehendak Ilahi di tiap detik dan hari, seseorang menjadi sadar penuh menyembah Yang Maha Esa, dengan menjaga keindahan alam, juga hormat memeluk budaya. Pada peristiwa ini, aku diselamatkan sebagai seseorang, menjadi sungguh manusia, maka aku akan penuh minat syukur mewujudkan keselamatan alam dan budaya.
Bersambung...Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010
JogjaPenatahCinta.Com