Norton 50 vintage bike

Norton, BSA, Harley, dan Vespa, mobil-motor tua ramaikan jalanan. Beriring bunyi derapnya kuda, gagah menarik kusir dan keretanya. Aku asyik ayunkan kaki, menggerakkan kedua pedal, roda sepeda pun berputar, oh sungguh uniknya malam minggu di Jogja. Aku bersama dia, tengah dibuai rasa.
Di antara ayunan kakiku pada pedal Humber, hati Mitha ikut beralun, detik gear box menanggapi keriangan kami, bagai ritmik musik yang dimainkan cantik kurcaci-kurcaci surgawi. Keelokan gerak menatakan keselarasan bunyian musik, menampilkan gadis-gadis cantik berkerudung putih, bergaun merah muda di biru langit, membuat bulan merah jambu tersipu. Terawang ayunya sinar bulan, meriasi kesahajaan muda para dara, mengutarakan wajah-wajah cinta, mengundang pikat, jaka-jejaka tertarik mendekat, Jogja santun mendekap, sayap-sayap cinta mengepak. Di angkasa raya, kecantikan surga melingkupi bumi, seakan melukiskan keanggunan putri cantik semesta bumi, megah berdiri, bergaun biru langit, berselendang putih awan-gemawan, bermahkotakan gemintang. Hati kami berbalut kebahagiaan, yang sepoi-sepoi menghembus perasaan kami, lalu jantung kami tenang berdendang, sedang nadi-nadi bergerak semarak, karena darah bersorak sorai kegirangan mengalirkan cinta.

Fingers playing harp

Sedapnya rasa cinta, bermain halus memetik dawai-dawai harpa, menggemai ruang jiwa raga kami berdua, sementara pukauan Jogja tercecap lidah, bakpia sungguh enak dikunyah. Makanan ini aku beri gelar, Bakpia Jogja Penatah Cinta, yang sejak zaman ketika orang-orang Netherland masih banyak tinggal di Jogja, sudah menjadi kegemaran cerita pukauan rasa masakan kue, jajanan Jogja. Aku sibuk mengunyah kerenyahan pia ini, sedang Mitha ramai memotong tong chiu pia, yang tengah dipegangnya dengan lentik jemarinya, lalu ia masukkan ke mungil mulutnya, ia pun cantik menyantapnya. Dikarenakan hal itu, kebulatan tekad cintaku sudah disambut besar bulat Mitha punya cinta, dua kekhasan rasa makanan ini menyatukan dua rasa cinta di hati kami. Tong chu pia, kue bulan purnama, mendatangkan ranumnya buah-buah harapan akan Jogja yang menatahkan cinta, harus lekas dipetik kenangan cinta budayanya. Aku percaya, akan banyaklah manusia mancanegara, terundang datang ke Jogja, bertandang. Di sisi kiri simpang empat dekat kantor pos, andong kereta kuda sedang menimang ayu seorang gadis China-Jawa, yang luwes berbincang dengan Sugeng Waluya. Wah..., rupanya tak disangka dua insan ini cukup apik berpasangan, dan andong si kereta kuda makin enak dipandang.

Jujur, sebagai teman dan sahabat dari Kenya Maryati Dewi, aku dan Mitha ikut riang bersendratari girang, kagum akan keunikan Sang Cinta, merancang pasang mereka berdua. Banyak juga pasangan jiwa-jiwa, ringan melangkahkan hati mereka yang tengah bahagia menapaki trotoar. Ada yang bergandengan, ada yang berhenti di tempat tukang jual gorengan, ada pula yang akrab berbincang di angkringan. Malam minggu, malam bulan purnama ini, pasangan kasih cinta, bertengger hinggap di ranting-ranting pesonamu, Jogja.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com