Hari sudah larut malam, Mitha bersuara halus dan menggumam, "Galuh, pulang yuk! Aku ngantuk nih, lagipula besok harus bantu eyang, katanya Pak Widagdo besok mau datang."

Aku tatap dalam-dalam matanya, kekasihku ini sudah kenyang berjalan-jalan petang denganku. Dari cahaya bola matanya, ia menampakkan kesenangan hatinya di hari ini, bisa berdendang keliling kota dengan Arjuna-nya.

"Baik, Mitha, aku juga sudah rindu untuk mencecap buah cinta di dadamu, yang nanti harus kamu tuangkan jadi ramuan sedap, teh poci di rumah eyang, ya..."

Rupanya, jawabanku lentur menggelitik kalbunya, jemari lentiknya gagap sigap mencubiti lenganku, sementara kakinya berjinjit sambil raut mukanya tersenyum dekik. Ketika Mitha sudah meletakkan pinggulnya di atas boncengan belakang, aku remaskan tanganku di setang depan, dan kakiku mengayuhkan keinginannya, sepeda pun melaju pulang. Tanggal lima belas ini, sang hari penuh untuk memberi waktu bagi bulan, supaya tampil penuh bulat bundar, merah jambu cahayanya berpendar-pendar. Bayangan kami di atas sepeda, luruh di permukaan jalan, Raja Kehidupan sekali lagi menyatakan kebijaksanaan-Nya tak tergugat, dan cinta kami menguat. Bayangan kami sungguh melekat pada tanah bumi, yang luwes tampilkan bentuk gerak hidup ragawi, karena kekuatan pantulan matahari pada bulan, alami menampilkan yang surgawi. Maka, segala sesuatu di muka bumi ini amatlah nyata; pegunungan, lautan, langit, manusia, tumbuhan, dan hewan, sungguh menyatakan realita, tidak pernah abstrak-naif-ilusif.

Sampai di depan rumah eyang, dangau gazebo beratap rumbia, kuning agak kecoklatan. Pijar bohlam lampu kecil berkawin taut dengan cahaya bulan, jiwa hening dipagut pukau, di cinta-Mu kami termangu. Masuklah kami di gerbang depan halaman, tanganku menggenggam setang, jemari Mitha menaut boncengan, sepeda tertuntun perlahan, barang klasik ini rapi tersimpan.

"Sebentar ya, Galuh... Aku mesti masak dulu, agar air cukup panas untuk meramukan cintaku padamu, kan kamu sendiri yang minta. Pokoknya, tehku nanti adalah 'Teh Cinta Mitha'."

Suaranya ramah serunai, elok semerdu biola berdawai digesek Maestro piawai. Aku ikuti lenggang Mitha dengan mataku, pinggulnya yang tawon kemit, menarikan keterpanaanku, kendalikan cinta di hatiku selalu. Sekitar mendekati menit berputar sepuluh kali, ia datang menimang baki dengan poci mengepulkan uap aroma teh jawa, lengkap dengan cangkir tanah, sekali lagi perasaanku dipanah.

Javanese Poci Tea

"Terima kasih, Mitha! Nanti tolong sekalian ambilkan tembakau, ya..."

Ia pun mengangguk, menyenyumkan simpul talian cintanya. Lalu talian cinta itu menyeret hatinya, menggerakkan dirinya berlari kecil ke beranda, kemudian masuk ke kamar depan, tempat Arjuna-nya sering berdandan.

Seiring dengan permintaan Mitha untuk istirahat lebih dahulu, aku teguk perlahan ramuan 'Teh Cinta Mitha' dengan cangkir tanah. Manis lembutnya gula batu Madukismo, dan khas harum serta samar sepet rasa teh, semarak dengan agungnya cita asap tembakau Kedu Utara, komplitlah aku mewujudkan "Orang Jawa".


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com