Aku sudah cukup puas duduk minum teh, juga mengulum asap tembakau, rasa lelah di badanku mulai mengirimkan isyarat untuk minta ragaku istirahat. Kubenahi perangkat poci teh dan kubawa ke dapur, lalu sekalian aku cuci bersih, supaya esok pagi eyang tidak direpotkan. Di rak piring kayu dari batang kelapa, aku atur poci dan cangkir teh ini dengan rasa santun, karena telah memberiku rasa nyaman, sewaktu menikmati teh hangat manis, yang diwadahinya dengan sahaja coklat warna tanah.

Aku bersyukur, hari ini banyak sekali makna peristiwa yang boleh aku simpan, tentu saja dengan segala perasaan yang timbul, baik menyenangkan ataupun gundah, semua kejadian dari perjalananku menelusuri Jogja, sesungguhnya kumpulan dari berkah. Tuhan sudah berkenan menampilkan limpahan cinta kasih-Nya, dimana kemanusiaanku sedang Ia dewasakan seturut kebijaksanaan-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya, aku ditata untuk menjalani irama hidup yang pasti, bahwa hidup ini adalah proses menuju hidup abadi, dimana nanti, dalam perjumpaan dengan Ilahi, kita mengakui bahwa kita tidak sempurna, karena kesempurnaan itu Beliau sendiri. Masalah yang sering timbul adalah karena kita tidak tanggap, dan sering berusaha mereka-reka rencana menurut kemauan kita. Hasilnya, kita terjebak dalam pemahaman abstrak, bahwa kita mampu merancang hidup kita, biasanya kekecewaan memenjara jiwa kita.

Malam ini, sambil ditopang bantalan kapas, tubuh, tangan, dan kaki ditatang empuknya kasur katun berisi halus serabut randu, kupersembahkan segala tanya, juga kesedihan, kepada Sang Khalik dengan hati lepas bebas.

A moslem woman is praying

"Allahku, Tuhanku, Engkaulah sesembahanku, terima kasih hari ini Engkau tetap memberiku hidup, seperti juga di hari-hari yang lalu. Aku sungguh bersyukur, aku tambah mengerti bahwa semaksimal apapun aku berusaha mengabdi kepada-Mu, pekerjaanku  belum pernah ada yang sempurna. Semoga Dikau berkenan menerima persembahan pengetahuan roh, jiwa, dan ragaku, dalam tindakan ragawiku, dan aku percaya, Dikau dengan sungguh bijaksana akan mewujudkan kehendak-Mu, yang pasti terbaik bagi kami manusia dan seluruh makhluk. Aku pun sungguh mengakui, di tiap perjalanan wujud penyelenggaraan Cinta Kasih-Mu, selalu Engkau nyatakan kebaikan dan kebaikan. Maafkan aku, Tuhan, sampai detik ini juga, apa yang aku coba patuhi melaksanakan perintah-Mu, selalu tidak pernah utuh kulaksanakan."

Sudah lebih dari lima kali tahun berganti, daku pulang pergi berkunjung ke Jogja, digerakkan perasaanku untuk membangkitkan semangat persatuan kesadaran akan budaya dan seni. Terlalu sedikit orang-orang yang mau mengerti dan turut membantu dengan budi pekerti, agar Jogja kembali menjadi Kota Seni dan Budaya Jawa. Aku hanya selalu percaya dan percaya, berjalan dan berjalan, bertindak dan bertindak, patuh dan patuh pada cita-citaku ini, karena cintaku yang pertama adalah kepada Tuhan, cintaku yang kedua kepada perdamaian dunia, cintaku yang ketiga kepada Nusantara, bangsa dan negara, cintaku yang keempat kepada Ngayogyakarta Hadiningrat, cintaku yang terakhir bagi sanak keluarga dan handai taulan.

Praying for the Earth

Diiringi pemahaman imanku kepada Beliau, Allah Sejati, Sang Maha Kuasa, Pencipta Surga, jagat angkasa raya semesta, dan bumi; Beliau Sang Raja Agung penguasa tunggal seluruh tata kehidupan di Surga, jagat angkasa raya semesta, dan bumi; aku pasrah, dan tidur merdeka lepas bebas.

Selamat malam Tuhan, selamat malam bumi, selamat malam Nusantara dan bangsaku, selamat malam Jogja, selamat malam sanak keluarga dan handai taulan, izinkan aku istirahat...


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com