Wara Ratu Pangastuti, eyang putriku, pagi ini tampak sekali memberikan sukacita bagi jiwa-jiwa di sekitarnya. Ia dengan amat rapi menatakan rasa tentram hati kami, di atas meja peraduan, yaitu hatinya sendiri. Hatinya yang penuh doa bagi kami, terlihat dari cara ia mengentaskan pisang goreng dari penggorengan wajan. Warna matang kekuningan pisang goreng, menandakan ketepatan kesabarannya mengikuti irama perkembangan kematangan makanan itu. Satu persatu pisang goreng tadi, ia pindahkan dari ayak peniris, ke atas piring keramik berhiaskan banyak gambar mawar, lalu ia pun meletakkannya ke atas peraduan meja makan. Aku, Mitha, Warta Pamarta, dan Sela Widhi Astana, tertuntun paku tertancap pukau, cinta eyang membawa kami masuk dunia surga. Dunia cinta kasih ini, kasat mata di hadapan kami, di ruang tengah rumah eyang, kehangatan percakapan hati nurani terungkapkan. Dan di dalam ungkapan hati nurani yang sekarang, sedang kami ungkapkan lewat percakapan mata, mulut, dan hati, rasa kopi jawa, bergula batu Madukismo, turut andil meningkahi bahasa hati di Jogja, di rumah eyang ini.

"Cucu-cucuku, kalian juga anak-anakku, hari ini kalian aku lahirkan lagi, lewat gorengan kepok pisang jawa, gula batu Madukismo, kopi Kedu Utara, selamat lahir kembali anak-anakku di aura keelokan hasil tanah Jawa!"

Kopi jawa terbaik di dunia

Sang eyang Wara Ratu Pangastuti, ibunya para ibu kami, berwangi kemangi kata-katanya, juga legit maduan hutan, di tiap tekanan irama kata yang dia sampaikan, sungguh ia ratu dara penyerta doa. Serentak, kami menjadi anak-anak halilintar, dengan semangat guruh menggetarkan langit, menyambut sapaan eyang, "Aduh eyang, banyak banget terima kasih..."

Mitha dan Widhi Astana, membantu eyang merapikan meja makan, juga membawa perlengkapan sarapan, kembali ke dapur dan lemari makan. Sedang aku dan Warta Pamarta masih asyik berbincang.

"Mas Warta, sudah bertemu Mas Sugeng Waluya? Gimana ya kabarnya, kangen juga nih..."

"Mas Galuh, saya belum bertemu juga dengan beliau. Kata beberapa teman, ia sedang sering menulis orkestrasi. Kabarnya dulu, suka dibantu Maryati Dewi."

Menimpali jawaban Warta, aku berkata, "Kekagumanku pada Mas Sugeng, ia hebat ya, bisa menghidupkan musik yang dimainkannya!"

Kami saling tersenyum, bertanda bahwa kami saling setuju, dalam hal mengesani mutu, bobot, Sugeng Waluya dan musiknya. Tak lama kemudian, Mitha datang membuka ketermenungan kami akan Sugeng Waluya, katanya, "Galuh, kamu dah mandi belum? Kalau belum, tadi pagi aku sudah beli shampo baru."

Aku menggeleng, Mitha membinarkan matanya, tanda memerintah, supaya aku segera mandi.

Di kamar mandi, aku terbayang akan Mitha. Binar matanya tadi, bahasa kepemilikannya atas diriku, karena cinta merajai hatinya. Maka di kelembutan shampo yang membersihkan rambutku, cinta Mitha ikut andil, karena ini pagi, Mitha tanggap melihat shampo, dan dibeli. Air segar mengguyurku, terasa sejuk mengusir penat. Air ini, adalah air dari langit sewaktu hujan, ditangkap pepohonan di perbukitan dan tanah datar sekitar, diresapkan ke tanah. Maka di dalam tanah, air ini kembali disegarkan, dengan segala materi mineral, yang tergubah sempurna diproses tumbuh-tumbuhan, menghantarkan perputaran daya di udara dan langit, sedang matahari mencurahkan energi tak terperi, lalu kembali masuk ke tanah bumi. Oleh karena itu, kita harus sadar bersyukur dan penuh rasa gembira, jika kita minum, mandi dengan air bumi pertiwi, dan rasa syukur itu, kita ungkapkan menggerakkan jiwa dan raga, menjaga, merawat vegetasi bumi pertiwi.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com