Keelokan Hasil Tanah Cinta, Bagian 34
"Cucu-cucuku, kalian juga anak-anakku, hari ini kalian aku lahirkan lagi, lewat gorengan kepok pisang jawa, gula batu Madukismo, kopi Kedu Utara, selamat lahir kembali anak-anakku di aura keelokan hasil tanah Jawa!"

Sang eyang Wara Ratu Pangastuti, ibunya para ibu kami, berwangi kemangi kata-katanya, juga legit maduan hutan, di tiap tekanan irama kata yang dia sampaikan, sungguh ia ratu dara penyerta doa. Serentak, kami menjadi anak-anak halilintar, dengan semangat guruh menggetarkan langit, menyambut sapaan eyang, "Aduh eyang, banyak banget terima kasih..."
Mitha dan Widhi Astana, membantu eyang merapikan meja makan, juga membawa perlengkapan sarapan, kembali ke dapur dan lemari makan. Sedang aku dan Warta Pamarta masih asyik berbincang.
"Mas Warta, sudah bertemu Mas Sugeng Waluya? Gimana ya kabarnya, kangen juga nih..."
"Mas Galuh, saya belum bertemu juga dengan beliau. Kata beberapa teman, ia sedang sering menulis orkestrasi. Kabarnya dulu, suka dibantu Maryati Dewi."
Menimpali jawaban Warta, aku berkata, "Kekagumanku pada Mas Sugeng, ia hebat ya, bisa menghidupkan musik yang dimainkannya!"
Kami saling tersenyum, bertanda bahwa kami saling setuju, dalam hal mengesani mutu, bobot, Sugeng Waluya dan musiknya. Tak lama kemudian, Mitha datang membuka ketermenungan kami akan Sugeng Waluya, katanya, "Galuh, kamu dah mandi belum? Kalau belum, tadi pagi aku sudah beli shampo baru."
Aku menggeleng, Mitha membinarkan matanya, tanda memerintah, supaya aku segera mandi.
Di kamar mandi, aku terbayang akan Mitha. Binar matanya tadi, bahasa kepemilikannya atas diriku, karena cinta merajai hatinya. Maka di kelembutan shampo yang membersihkan rambutku, cinta Mitha ikut andil, karena ini pagi, Mitha tanggap melihat shampo, dan dibeli. Air segar mengguyurku, terasa sejuk mengusir penat. Air ini, adalah air dari langit sewaktu hujan, ditangkap pepohonan di perbukitan dan tanah datar sekitar, diresapkan ke tanah. Maka di dalam tanah, air ini kembali disegarkan, dengan segala materi mineral, yang tergubah sempurna diproses tumbuh-tumbuhan, menghantarkan perputaran daya di udara dan langit, sedang matahari mencurahkan energi tak terperi, lalu kembali masuk ke tanah bumi. Oleh karena itu, kita harus sadar bersyukur dan penuh rasa gembira, jika kita minum, mandi dengan air bumi pertiwi, dan rasa syukur itu, kita ungkapkan menggerakkan jiwa dan raga, menjaga, merawat vegetasi bumi pertiwi.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Keelokan Hasil Tanah Cinta, Bagian 34
