Pagi menjelang siang, setelah pamitan dengan eyang, dan mengecupkan cinta di dahi Mitha, aku bergegas berlanglang bersama Piaggio Super Sport Rally 200. Vespa separuh baya ini, abadi daya tugas dan pesonanya, gagah bergerak hormat, melewati pintu gerbang halaman depan. Sedikit berayun menambahkan daya tariknya, kaki-kakinya yang bundar menapak jalanan yang mulai banyak lobang, di depan rumah eyang. Aku ingat cerita ayahku, dengan Vespa ini, ia sering pulang tugas dari Jakarta ke Magelang, hebat juga ya, sampai sekarang masih laju melenggang, dan suara mesinnya lengang. Pada zaman itu, seorang tentara harus pandai berhemat, karena situasi perekonomian, negara harus cukup bijak mengatur kesejahteraan untuk para pejabat tugas negara dan rakyat. Jadi dengan Vespa ini, ayahku jadi mudah mereka-reka acara di antara tugasnya, untuk dapat mencium mesra ibuku dan menimang halus diriku, melewati kepulangannya ke Magelang. Keadaan ragawi Vespa ini, terjaga baik dan mulus, kata ayahku, ini adalah bentuk menghormati rezeki dari Tuhan. Terkenang, ayahku dengan penuh kesungguhan mencuci body-nya, merawat sistem pelumasan mesin, instrumen pengapian dan pengatur hantar bahan bakar, ayah bersihkan dengan sungguh pakar.

Tepat di depan rumah semi permanen Tionggoan kolonial, skuter ini aku hentikan, mesinnya aku istirahatkan, sementara mataku tengah mengagumi arstitektur rumah ini, indah beratur dandan. Rupanya, para arsitek itu masa, jiwanya dipenuhi sarat makna yang luwes estetika, sehingga jadi tepat guna. Rangka-kerangkanya dari kayu, disalut warna hijau, memegang tetembokan putih kekuningan. Sedang daun pintu dan jendelanya, berwarna hijau muda di pinggirannya, dan di tengah bilah daun, kuning muda warnanya. Lalu kuketukkan jariku pada daun pintu tua kayu, dan tak lama kemudian, pintu terbuka, sebuah wajah anggun jelita, muncul bagai mekar bunga.

"Hai Galuh, aku kira siapa... Ayo masuk! Aku lagi membantu Mas Sugeng Waluya menyusun tulis partitur, senang kamu datang, pastinya akan lebih mudah harmoni digubah. Ayo masuk!"

Di ruang tamu, aku, Sugeng Waluya, dan Maryati Dewi, langsung asyik berkinerja cakap, menanggapi pola melodi dan harmoni di partitur komposisi Sugeng Waluya. Kehati-hatian Sugeng Waluya menggubah melodi, harus kami tanggapi penuh rasa hormat, membuat susun gubah keselarasan harmoni, agar warna tema melodi musik terjaga rapi. Sebab pada alunan melodi tema, peristiwa yang diceritakan dalam komposisi ini, akan sungguh bercerita hidup kisahnya kepada para pendengar. Karya musik yang baik, ketika alur melodi betul-betul berdiri sebagai pemimpin situasi penggubahnya, pasti akan membawa pemahaman bagi para pendengarnya. Bahkan ketika melodi itu dimainkan secara instrumentalia tanpa kata, peristiwa perjalanan bathin penggubahnya tetap hadir di hati penikmat musik.

Bakpia Pathuk Jogja Penatah Cinta

Hari sudah cukup malam, kami pun sudah banyak menulis tata aransemen, Maryati Dewi menyikapi kelelahan ini. Ia masuk ke dalam, dan sekejap kemudian, bakpia serta minuman hangat, ia bawakan bertatang nampan. Oleh karena itu, akhirnya begitu nikmat kami rayakan waktu istirahat ini, bersanding hangat minuman dan lezatnya bakpia. Sementara dari jendela ruang tamu, langit tengah terharu, berjatuhan rintik hujan, seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan kami, mencintai Jogja, walau tanpa didukung banyak teman. Namun kami percaya, sekarang ini, para laskar surga sedang menghalau pasukan nestapa, yang sebentar lagi akan hengkang dan hilang. Dalam segala hari, segala waktu, segala tempat, Tuhan menatakan agung cinta-Nya.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com