Lantunan Tembangan Cinta, Bagian 36
Kekasihku menabuhkan cinta-Nya di waktu malam, kilatan hati-Nya, megah bergemuruh, lenyapkan kesepian. Di tabuhan cinta-Nya, aku dan bumi diberi makanan, di bulan penuh bundar cinta-Nya, kilau santapan cinta disajikan.
Pasukan-Nya gemerlapan, menyajikan kemenangan, bersamaan rintikan hujan, kebekuan, kemuraman, dicairkan. Lalu..., sesudah usainya rinai hujan, kisah cintaku mulai berjalan.
Pujaanku, mendatangkan jumpa kekasihku di satu malam, setelah ribuan kali hari aku menanti, dan termangu sendiri, sesudah beribu caci, membenamkan tajam kemurkaan, merobekku di hati.
Pujaanku, mengkadokan pesona cinta lewat kekasihku, di suatu malam. Di susunan kilau lebat legam rambut, di jenjang leher gadis itu, Pujaanku sematkan kecil giok mahkota kehijauan, yang menyala bertatah selusin kerlap berlian.
Cantiknya mekaran Mei Hwa, di rona paras gadis itu, membuat kepayang hatiku, sekenyang mabuk minum Ang Ciu. Cinta, kini kembali menyibukkan aku, untuk menyanyikan birunya laut tidur, dinaungi teduh cahaya purnama.

Maka, seperti lelaki gembala muda, aku tengah menyampaikan cinta, dengan meniup mesra nada seruling gading, karena kekasihku semartabat putri raja anggunnya, yang halus memainkan karawitan gendhing. Maka berbaris sajak kata hati, bersahutan menambatkan kalimat rasa, dan lantunan cinta ditembangkan.
Aku menginginimu, dengan enggan jengah untuk datang mendekat, seperti pendaman rasa miskin bocah, memandang bejana kembang gula, dari emperan toko mandarinan. Sementara anak-anak kaya, luwes memamerkan, enaknya mengunyah kue dan manisan.
Keinginanku berlinang-linang, malunya rasa hati, ajak aku untuk undur pulang. Penuh gemetar, aku menahan keinginan, karena kutahu cantiklah jiwamu, memang teramat menawan. Maka, ku hanya terpatri menanti di beranda hatimu, meski gerimis menitiskan rindu.

Rinduku akan membayangimu, dewi, melekat menemani, seperti anakan panah di bahu Srikandi, sementara cintaku, busur, untukmu berlindung diri dari sepi. Kemanapun engkau tengah pergi berada, akulah kereta berkuda, ketika kau lelah..., pasti kuhantar buat istirah.

Anak dara berselendang pelangi, ratunya para bidadari, ijinkan masuk aku, ke relung hatimu, dimana di situ, istana kedamaian ada selalu.
Di istana ini, aku dapat mereguk minuman "damai", yang diperam sampai halus manis rasanya, membelai di tiap tegukan jiwa yang dahaga.
Ratu dara, cantiklah kamu bersinggasana legenda yang jadi ribuan cerita, di mata air gunung suci, bidadari mandi, engkau sendiri. Terbuai halus manisnya rasa peraman sari damaimu di jiwaku, terhanyutlah aku di kuat arus sungai cinta.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Lantunan Tembangan Cinta, Bagian 36


