Tergugah Bangun Rinduan Cinta, Bagian 37
Bodohlah aku, jika tak jatuh hati, kamulah dara pujaan lelaki sejati, pria yang takluk kepada Allah, pecinta juang bebasnya kemandirian Nusa Bangsa, menarik pukau mata dunia, hormati negeri kita.
Pada alun nada suara kecapi, waktu kamu berjalan langkah, kuat pukau pesona rusa muda betina, di parasmu, hanyutkan aku berperahu rinduku, bertingkah senang susuri sungai cinta.

Riak lembut alun gelombang pesonamu, juga desah merdu suara keperempuananmu, enggan aku untuk bermimpi, dan tergugah bangun, rinduan cintaku.
Sungguh aku jatuh hati padamu, anak gadis, kerasukan engkau, sehingga seperti terpaksa berdiri, di tengah-tengah simpang perempatan. Dan dari arah segala, berbusuran rasa iri, siap lontarkan berlipat tajam fitnah, aku tetap berdiri tak lari, terlanjur kalbuku jatuh hati padamu, karenamu sungguh ku jatuh hati.
Anak gadis yang lebih ayu dari manis, bagaimana tidak aku jatuh hati? Darahmu dicairi larut air tanah bumi Jawa ini, sintal tubuhmu, tinggi jenjang bagai kijang, karena apik makanan hasil tanah pertiwi, makanan terbaik di bumi, santapan harian sejak kau bayi.
Sungguh aku cinta kepadamu, segar hawa gunung, hutan, hulu sungai, dan lembah tumbuhan buah, kawinkan semerbak limau, dan matang mangga, pada harumnya napasmu.
Rupanya jatuh hati kepadamu, serupa kucinta tanah tempat lahirku. Nenek moyang, leluhurku, ibu dan bapa, menamainya Nusantara. Oleh karena itu, kulindungi kamu dengan benteng berlingkar meriam, di perkasa gagah cintaku, iri musuh jadi bungkam.
Dengan trisula keemasan, wujud cinta kepada Tuhan, kepada alami bumi, dan pada segenap makhluk, juga manusia, seluruh bajik kekuatan langit dan bumi, melebur di situ, maka kugenggam ia dengan hormat. Besok akan tergenapi, cinta kasih merajai bumi, dan musuh kita si naga yang jahat, musnah selamanya, bersama beranak pinak penyembahnya, punah sirna.
Paras anggun wajah milikmu, bagai ibu yang tengah mendidik anak-anaknya, untuk bisa halus bicara dan bersopan kata. Agar kelak anak-anak itu, memahami hormat kepada bumi, dan alam sekitar mereka, yang lebih tua dari leluhur, juga orang tua mereka, apalagi dibanding usia mereka sendiri.

Berbicara halus dan sopan, cermin pantul, bahwa kita ber-Tuhan betul. Kehalusan sopan bicara mengarahkan anggunnya bertingkah, menggerakkan laku hidup, selaras tata kata tanpa perangai pongah, menuntun mereka ke panenan dunia damai melimpah. Inilah kekayaan sejati, melebihi lipat jumlah nilai harga mata uang di seluruh pelosok muka bumi.

Aku takjub, dan berkali menahan napas, di tulisan sastra ini, Sugeng Waluya menampakkan, betapa ia merawat syukurnya, bahwa ia dilahirkan sebagai seniman. Tadi malam aku hantar ia pulang, selama perjalanan ke rumahnya, masih saja kami akrab berbincang. Di scooter Vespa, kami berboncengan, bagai gitar classic dan alto biola, asyik bersahut, melagukan agung komposisi tetembangan Jawa.

Di depan rumah berpendapa kayu jati tua, tempat tinggalnya, ia sampaikan bahwa ia berminat meminjam biolaku, dan ia pinjamkan buku ungu tulisan sastranya kepadaku. Ia berpesan, semoga prosa liris tulisannya, bisa mengilhami aku, menggubah kisah liris prosa ke bentuk gubah rangkaian melodi bercerita.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Tergugah Bangun Rinduan Cinta, Bagian 37


