Darasan Berulang Nyanyian Cinta, Bagian 38
Pelan aku hisap dalam, rokok tembakau, dengan galih Nagasari pipaku. Di keras hitam pipa galih Nagasari ini, lembut rasa asap tembakau Kedu Utara, sedang aroma harumnya menenangkan, aku penghisapnya disenangkan.
Maka gerak kisah liris prosa tulisan Sugeng Waluya, bertutur lanjut kepada benakku, diiringi kopi pahit hangat, luncur perlahan, di tiap tegukan. Kaca jendela dengan gorden coklat capuchin pada kamar Mitha, ajak aku merenung di transparansinya, oleh karena sinaran lampu menerawangkan rendaan sulamannya.

Jendela kamar Mitha, membiaskan sinar, tembusi pandang rendaan gorden capuchin kecoklatan, rupanya lewat panorama ini, Sang Cinta berkenan menegurku. Agar aku daraskan berulang syukuran, karena Cinta, kami berkenalan.
"Adapun peristiwa rasa yang kualami, ketika membaca liris prosa, adalah karena martabat liris prosa, menggerakkan cerita."
Sudah menjadi santapan bagiku kekasih, kala pagi, siang, ataupun malam. Kerinduanku, hidupkan cintaku padamu, memupuskan sepi, dengan harapan, sepanjang hari, minggu, bulan, dan tahun, tak pernah takut aku menjalani banyaknya himpunan waktu kerinduan.
Aku hanya tahu bertahan, kesahajaan cinta menatihku, tulus setia serta sopan, karena udara pun tak pernah ingkar janji hidupi bumi, di tatihan hangat cinta matahari.
Dalam tak sempurna, timpang tabiat manusia, aku kejar kamu, kekasihku, bisa saja hasratku keliru. Lebih baiklah aku berbuat salah, dalam gerak rinduku yang gontai langkah, bukan sebab menang atau kalah, mendapatkan ramping ayu kekasihku.
Nyatanya, bergulir terus putaran roda kereta cinta, kalau nanti jatuh dan punah aku, terlindas roda itu, di hembusan akhir napasku, riang bersenandung aku, lagukan tembang "Aku Cinta Kepadamu".
Dewi Maryati, kamulah kumpulan mawar melati di taman misteri. Kenangan masa lalu kita, indah berkicaukan puluhan kenari, dan kamulah sang penambat hati.
Tiap pagi merekah, aku temani kamu melangkah, meski tak tepat di sebelah. Aku sedang di toko Nyonya Minah, menghitung jumlah pesanan jajanan, sambil sementara curi pandang mataku, tetap saja mengayunkan langkah hati, dengan cinta mengawalmu.
Aku ingat, waktu itu ku penuh berkeringat, cantiklah kamu bersenda gurau menyenangkan handai taulan, aku lihat. Tatkala di sudut halaman sekolah, aku menatap tertawan, sambil jualan es buah, biar aku bisa kuliah.
Tiap lompatan canda ceriamu di antara teman-temanmu, mengejut pijar lamunanku, bercita laras untuk cepat rampung kuliah, diburu malu dan jengah.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Darasan Berulang Nyanyian Cinta, Bagian 38


