Tahun ke masa berganti, penjual es buah itu, berpentas seni di banyak manca, di puluhan negara, ia singgah bersandang bawa kisah cintanya, di bahu hatinya.

Di tiap kota, aku lihat kamu, di berurutan harmoni untaian nada biola, aku ingat kamu, di jangkauan tinggi tenor bersuara, puisi tentang kamu bergurat di dada.

Kenya Maryati Dewi, kamulah erl hu, digesek nyanyikan, cantik sekali nyanyian percintaan, anggun ayu menimpali resital solo guitar, yang jadi masyuk kumainkan. Pada sorak penonton soraikan tepukan, tersenyum hening aku, monoton termangu menung sendiri, wajahmu terlukis di hati.

Kala kaguman orang hingar bingar, gender, sitar, dan gambang, memukau datang, wajahmu berdekik senyum membayang. Rinduan air mata hatiku, berderai gerai, karena rinduku berlari belum sampai. Kerinduan di cintaku menyatakan, kamulah tiang pancang gaib, mengikat pancang lelakinya manusiawiku, hidup menginjak bumi, gamang menatap langit, belum tergerak aku untuk pulang pamit, sebab napasku tetap menangkap udara, dan tiada henti mengkait. Kalau nanti seiring agungnya waktu, aku harus pulang ke Negeri Langit, kuharap selayak patut sahaja prajurit.

Flowers at Castello de La Plana, Spain

Suatu senja, tak dingin juga tak panas, duduklah aku di teras bertingkatnya rumah kayu dan batu, dimana batuan alam itu, rapi berdamping susun dengan tuanya kayu.

Sebelum di tempat ini aku istirahat, kususuri padang rumput dan ilalang saudaranya, dengan mobil khusus buat romantisnya suasana wisata, Fiat 1100 yang tampan dan gagah terawat jaga. Dari Castello de La Plana, bersama hangat udara suasana, aku berangkat ke arah barat, cukup unik menarik, lewati banyak gunungan lembah, berhias indah cantik arsitektur bangunan tua, berdiri tampil memikat. Heran aku bersalut hormat, di jazirah Espana, orang-orang dataran Mediterania, mengikat kuat paham budaya mereka sendiri.

Farm and mountain in Spain

Budayanya riuh rendah aku rasakan, ketika mereka bicara, liuk irama flamenco guitar, berbusana apik di tiap wajah ceria bermimik.

Tetap saja aku ingat kamu, Maryati, waktu pesta lulus sekolah, tampil apik dikau, berloncat lompat, tarikan kijang kencana, menyuguhkan gemulai jenjang tubuhmu berjingkat tarian, sedang matamu berseni peran melirik, jantung dan hatiku melompat terpekik.

Lalu, di teras rumah Spain, meneduhkan hati bukan main, terpacu aku melagukan nyanyian, yang kugubah tahunan lalu, berlagu aku, sedang jatuh hati padamu.

Siapa dikau, Puteri? Indah penaka bulan, cerah bersinar berkilauan, memikat jiwaku. Terang bagai fajar, kemerah-merahan, anggun menala laskar Surga, sedia berlaga melawan nestapa.

Lagu ini tergubah dengan berunut santun jatuh ilham langitan, bersinar keunguan, di rumah, tepatnya di pendapa depan. Waktu itu, aku dituntun mesra senyum ibuku, ia rupanya selalu tahu, penuh setia mengamati polah tingkahku.

Malam itu, ibuku cantik bergaun biru, kepalanya kemilau berselendang putih, wajahnya berseri-seri, menabuhkan gerak syukur, dibawa aku meluncur ke Surga, meski ragaku masih menapak bumi.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com