Cinta Tengah Menyala, Bagian 2
Di Malioboro, rodanya perlahan melambat. Pagi ini aku melihat manisnya gadis-gadis, sibuk menampilkan cinta di wajah mereka. Cinta di dada mereka merekah, memerah muda di rona pipi, dan di binar mata, cinta tengah menyala, membakar wewangian dan dupa, mengharumkan kata-kata yang berlompatan dari mulutku, meloncant-loncat di permukaan lidahku, karena kenyamanan Jogja di rasa tahu baceman yang kukunyah.

Vespa gajahku, berhenti di Beringharjo. Aku masuk, terburu rasa ingin tahu. Seorang ibu menyapa kepadaku, menawarkan anyaman bambu bersulam gambar bebungaan ungu. Di genggaman tanganku, kehalusan anyaman bambu membelai hatiku, betapa para tani perajin bambu ini, bekerja mewujudkan cintanya kepada tahta hukum alam. Aku tersenyum kepada ibu itu, sambil membalas dengan rasa hormat, karena ia menawarkan gubahan karya sulaman dan anyaman yang begitu unik, dengan sentuhan seorang manusia. Aku merasa sungguh tidak seimbang, dengan sejumlah angka yang tercetak di kertasan uang, yang aku berikan kepadanya.
Pada anyaman dan sulaman bambu ini, pasti dicucurkanlah keringat, dikumpulkannya harapan, dirangkumkannya rasa syukur, untuk mengolah hidup, supaya berbuah rangkaian makanan dan rantaian pakaian, bagi buah-buah hatinya di rumah. Aku melihat keteduhan matanya diiringi ucapan rasa syukurnya, sewujud gerak penari Bedaya hormat menyambut Sang Raja.
Terima kasih, ibu penjual anyaman bambu. Kalbuku yang kering kembali sejuk, karena berlagu mendayu, memasuki keindahan gapura kasih sayang di Jogja.
Sang gajah sahabatku melewati sebuah roda tiga. Seseorang yang tengah mengayuhnya, melihat kepadaku, dia tersenyum dan membawakan sapa, "Selamat pagi! Mau kemana, Mas?"
Sambil tanganku menurunkan tingkat laju gajah putihku, aku menyapa balas, "Selamat pagi, Pak! Bisa antar saya bertandang memandang alun-alun utara?"
"Ikuti saya ya Mas... pelan-pelan saja, sudah tidak jauh kok. Maklum Mas, tenaga belum penuh sarapan," ujarnya.
Aku ikuti roda tiga itu dengan gajah putihku yang beringsut amat pelan, aku melihat tata gerak penuh rasa katresnan, menyembah syukur pada pagi dengan semangat kerendahan hati nan bersahaja.

Memasuki Alun-alun Utara, sepasang beringin kembar, memecah keangkuhanku, berpencar terpukau bangunan megah, Gedung Pagelaran Budaya. Di sebuah sudut di depan gedung itu, kami berhenti dan saling mengatur tempat kendaraan kami mengaso. Aku gunakan kekuatan kangenku akan misteri budaya Jogja, aku dudukkan pesonanya, aku letakkan diriku di atas becak itu.
Di atas roda tiga aku termangu, sementara langit di atasku murni biru dan awan putih tembus pandang, tersipu-sipu. Di tanganku anyaman bambu tempat menyimpan baju, bagai berulin menganyam kisah-kisahku di masa lalu. Tunas-tunas masa kecilku yang asyik disirami hujan deras air mata ibu, menyatakan mata air Sumarsih, sumbernya cinta kasih, karena tahta tertinggi alam semesta menyulamkan cinta berwujud, dalam ibuku. Cinta ibu kepadaku, selalu setia menanamkan dasar berpijak hati dan budiku, yang sekarang aku renungkan lewat mata memandang, Gedung Pagelaran Budaya.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Cinta Tengah Menyala, Bagian 2


