Bersamaan selesai lagu itu kulantunkan, suara-suara para gadis Espana bertaburan kegirangan. Bagai limpahan mekaran bunga di teras depan, dimana jiwa ragaku sedang berkedudukan. Di mata mereka, pancaran kekaguman menyatakan, jenjang kaki hati menjuntai, kemudian berdansa tango, panas tarian semarak asmara.

Ternyata keindahan estetika, tak kenal batas bahasa, gerak inti nurani pada manusia, menggubah rahasia bahasanya sendiri. Maka turun aku dari teras, mengemas mereka dengan kehadiranku, lalu hati kami saling mendekapkan rasa, girang berkenalan.

Rata-rata gadis Espana, rambutnya bergelombang, warnanya hitam, agak samar kebiruan matanya, ranum dadanya, setimpal bibirnya merah muda, menopang mancung hidungnya. Jenjang tubuh mereka, sungguh karya tatah Sang Maha Seniman Agung, sumber ilham inspirasi bagi seniman pecinta nada, membuat gubahan hasta karya, Guitara.

Kenya Maryati Dewi, aku tetap saja terpejam kenang akan dikau, karena padamu, diguritkan seni gurat sastra tulisan, bacaan para dewata. Kala itu, cerah pesta lulusan sekolah, diadakan di sebuah pukauan rumah Jawa kolonial, di Salatiga. Suatu mukjizat dinyatakan, dipilihnya aku menyertaimu bersama teman-temanmu, karena dihadiahi mandat, kerja di dapur, mengatur sediakan santapan makan. Aku nyatakan barisan ungkapan syukur, ketika kalian masih tidur, bangunlah aku seawal mungkin, di tiap fajar pagi merekah.

Rumah Joglo Jawa Belanda

Lalu di bantuan pesuruh sekolah, ke pasar terdekat pergilah kami melangkah, menata belanja agar cukup lebih jumlah. Dengan sepeda kami berboncengan pulang, lambat geraknya karena sarat muatannya. Namun daya cinta membuatku kuat, hingga aku tak pernah rasa penat.

Dengan cinta, kuramu bumbu seapik merica, ketumbar, bawang, kemiri, kulumat berulang di batu gilingan, supaya ungkapan cintaku betul teramu di situ. Hanya satu keinginan, lewat berbagai rasa masakan, rasa cintaku kepadamu, lewat nikmat kecapan lidah para teman, hormat rasa cintaku tersajikan.

Lodeh, baceman tempe tahu, terasi berlumat sambalan merah cabai, ayam goreng bersantan Kalasan, dan peyek kacang, bertata atur tempat singgah tampil menawan, di meja makan.

Kala itu, di antara waktu kalian makan, beringsut aku pergi melangkah ke ruang dapur di belakang. Bukan sekedar untuk menghela napas, aku tak mau engkau melihat bahwa aku sedang dibebani kelelahan. Serapi mungkin aku bungkus rasa malu, di kepulan asap tembakau utara Kedu, ternyata perasaanmu lebih pekat aroma menghampiriku.

"Mas, minum dulu. Ini Dewi buatkan teh manis, masih hangat kok, Mas. Minum ya..."

Aku bagai panas besi diguyur dinginnya air, berkepulan uap dari sungguh malu perasaanku, sebab suaramu mampu menelisik, juga menyusupi gerak malu di seluruh nadi. Sambil senyum malu, kuterima segelas teh itu. Sentuhan hangat lembutnya jemarimu, menyinggung jariku, jadi memunculkan deras air terjun dibingkai  lebat hijau perdu dan pohonan. Linglung aku, sebodoh wajah Palguna, ketika ditembusi panah cinta, yang melesat mesra dilepaskan dari busur hati Srikandhi.

Dewi Kenya, sejak saat itu aku bersumpah, bila Tuhan berkenan, pastilah berpanen limpah Bhagawad Gita aku tuai, bila cintamu mendewasakan aku, menyertai hormatku kepada bumi, jadi mahkota hati yang mengabdi kepada Sang Hyang Widhi.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com