Perlahan kantuk datang berkunjung, walaupun kalbu sungguh tersanjung, kaki-kaki liris prosa kuat landas mendarat di perasaan. Inti batin kemanusiaan, sadar terhela, diajak menguakkan tirai tipuan, di tiap dangkal pikiran insan.

Oleh kebijaksanaan yang terlalu amat bijak, yaitu rasa kantuk, jiwaku diarahkan untuk menggerakkan badan, dengan berayunnya kaki menuju kamar. Lewat jemari, daya jiwaku memutar handle pintu kayu. Aku masuk, lalu mataku memandang putih tua agak coklat, dinding kamar yang memagari lemari kayu, meja tulis, dan ranjang kayu, semuanya berdandan gaya Victoria, ayu.

Ranjang kayu jati tua Victoria Belanda

Amboi, kamar ini ramah menyambutku berkali-kali, setiap waktu kala kunyalakan lampu gantung, pijar bohlam membuat bayangan ukiran kakian perak memegang pundian keramik, sementara di atas, kakian perak menyangga tembus pandang kap topian keramik menyala transparan. Sirkulasi udara sempurna lewat lubang jalan hawa, di atas, dekat lelangitan, di bawah, dekat ubin berkanopi kayu berwarna coklat. Lantai ini kamar, berubin warna coklat muda dengan simbol hiasan lukisan bungaan.

Dalam kantukku, bercakaplah aku menyusun kata hati, menyampaikan bahasa jiwa, dituntun kejujuran rohku berbahasa.

"Ya Allahku, terimakasih untuk hari ini, hari lalu, dan pasti juga untuk hari mendatang. Ternyata tiada satu detik pun Engkau bisa lupa akan diriku, di rasa kantuk ini, Engkau menyatakan Cinta-Mu, supaya aku mengetahui keterbatasan wujudku selaku manusia."

"Allahku Penciptaku, Raja dan Tuanku, seberapa banyak usahaku mencintai-Mu, tak pernah bisa tuntas baik cintaku. Dengan segala kelemahan, kupersembahkan kepada-Mu semua gerak cintaku kepada-Mu lewat roh, jiwa, dan ragaku. Karena aku hanya percaya kepada Kebijaksanaan-Mu, adalah Kebijaksanaan terbaik bagi kami manusia, dan seluruh makhluk di Surga, di angkasa semesta, dan di bumi. Amin!"

Seperti biasa, sahabat-sahabatku, para makhluk berparas sungguh menawan, datang mengitariku, sambil bernyanyian dan bermain musica sacra Sang Bhagawad Gita. Tubuh mereka terang berpendar cahaya, membungkus lingkar lindung, keunguan sinaran dari tubuhku. Satu persatu, mereka bergilir bicara kepadaku, bahwa mereka akan tinggal menjaga tidurku, dengan kedamaian pulaslah aku tanpa impian.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com