Seusai sarapan, Warta Pamarta datang, ketika aku masih minum teh dengan Mitha dan Eyang. Hari ini ia tidak memakai sepeda motor Honda C 70, sebagai gantinya, dipakailah mobil ayahnya, Fiat 1100. Oleh karena itu, pakaian Warta tidak nampak basah, meski di luar cukup deras hujan tergelar.

Honda Super Cup 70

"Selamat pagi, Eyang, Galuh, Mitha..." sapanya, pada waktu ia memasuki manis teduh ruang tamu. Eyang memberi senyum sambutan, aku dan Mitha membalasnya bersahut sapa, "Selamat pagi! Ayo, sekalian nge-teh dulu!" Tampak Warta gembira, ia mendekat lalu duduk, diseduhnya teh dari poci tanah, dituangnya ke cangkir coklat ramah, persaudaraan kami tampil menginjak tanah.

Di ruang tamu rumah Eyang, persaudaraan yang sarat makna cinta, tampil hangat menenangkan mata jiwa, menyemai tunas gerak hati, jadi panenan rasa bahagia.

Beda usia kami masing-masing, bukan jadi sekat pembatas, malah menarik sebagai kail, karena satu sama lain punya bahan umpan memancing pembicaraan.

Di tiap zaman, Sang Khalik tak pernah keliru menyemaikan minat Cinta-Nya, dimana Damai-Nya adalah istana, dan dengan Tahta Cinta-Nya, Beliau memerintah tata, menggerakkan cinta di tiap manusia, menjadi tata gerak hidup mendunia, seturut Roh Cinta yang menghidupkan kita.

Eyang punya irama gerak cinta hidup dan hidup cinta, pasti dengan kekhasan cita rasa, pada tiap episode cerita nyata, perjalanan hidup cintanya.

Aku Galuh Arjuna Indra Putra, Mitha, dan Warta Pamarta, juga sekumpulan bejana cinta, yang dibuat menurut jeda waktu keindahan cinta. Tetap sama makna cinta, walau ditempatkan pada sudut berbeda, pada ruang waktu bergeraknya cinta. Namun masih tetap berada di lingkungan istana kehidupan cinta, yang digerakkan Kuasa Cinta dari Surga, menata gerak cinta pada angkasa semesta, berpadu dengan gerak tata cinta di bumi. Ternyata kekuatan terbesar hanya ada pada Sang Maha Cinta, Allah itu sendiri.

Aku tersadar, tanpa ada Eyang Putri dan Eyang Kakung dari Ayah dan Ibu, pasti aku takkan pernah ada mewujud menghuni bumi. Oleh gerak kesadaran ini, aku harus hormat kepada Allah, melewati hormatku kepada para Eyang, Ayah dan Ibu. Dan juga kulanjutkan dengan hormat menghargai handai taulan, saudara sekalian, juga semua insan.

Aku kan tidak pernah bisa hidup sendiri? Bagaimana nanti aku menanam bahan pangan, bagaimana pula aku  bisa sendiri bersandang dandan dan berinteraksi sosial? Kalau hanya aku seorang diri jadi manusia di bumi, dalam sekejap waktu, aku mati sedih dalam sepi. Aku percaya hal itu pasti terjadi, jika aku larut dalam mencintai diri sendiri, berarti aku tengah menantang Surga. Wah, nggak aja deh, membuat nyawa sendiri saja aku nggak bisa, aku nggak mau jadi orang gila.

Rinai hujan belum sungguh terang, jalanan tampak lebih lengang, di kiri-kanan banyak insan berteduhan. Gondomanan tampak sediakan, tempat sejenak hidup cinta berbincang, tiap orang tengah sibuk menjalani kehidupan. Pada tiap kalimat percakapan, daya cinta di mata, di gerak wajah, di hangat tubuh dalam pakaian, hidup cinta serta cinta kehidupan, menghidupkan Jogja. Di simpang empat, dekat Pojok Beteng Kulon, suara-suara cinta pada Eyang, Mitha, Warta Pamarta dan aku, bersahut pantul.

Fiat 1100 Original

Di ayunan suspensi mobil Fiat 1100 ini, lembut aku terlena di jok belakang, bersama Mitha. Eyang Wara Ratu Pangastuti, ibu dari ayahku, yang menambat ibuku Rara Putri Sumarsih, duduk di depan, di sandingan Warta Pamarta, si pembawa kabar gembira akan indah perjalanan, sesudah eloknya perjamuan di kala sarapan.

Ritus perjamuan dalam ibadat hidup pagi ini, jiwa kami menyantap cinta, lalu Cinta menyantap jiwa kami, untuk dilebur-Nya dalam kudus penyelenggaraan misteri Karya Cinta-Nya.

Pada kesahajaan kereta bermesin sebaris 1100 cc ini, kami tengah penuh kasih disantap oleh Sang Kehidupan yang sungguh hidup. Keunikan masing-masing kami, ditata lebur untuk menghormati gerak sejarah cinta hidup, di kehidupan Jogja.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com