Menyusuri Jogja di kala pagi dengan rinai hujan, manis menitiskan kisah kenangan, menyatu dan hadir bersama pitutur kidungan yang Eyang lantunkan. Melodi dan syair di nyanyian Pangkur lantunan suara Eyang, adalah syair agung yang berlagu, menampilkan langkah hidup santun. Sudah pasti jauh dari sikap menuruti enaknya diri, bahkan harus ditinggalkan, maka jadi hidup halus budi.

"Sekar Pangkur kang winarna, lelabuhan kang kanggo wong ngaurip. Ala lan becik puniku, prayoga kawruhana. Adat waton puniku dipun kadulu. Miwah ingkang tata krama, den kaesthi siang ratri." Dalam bahasa Jawa Mataraman, bertutur arti, bahwa keanggunan laku mengarungi kehidupan, akan terwujud bila kita santun menjaga hati, untuk selalu merawat indah laras hidup bersama.

Halus suara nyanyian Eyang, seolah ditanggapi lembut derum mesin Fiat konde 1100 ini, membuat buruknya duka, jadi berlarian hengkang. Maka pemandangan Jogja hari ini, berselimutkan kenangan indahnya Jogja. Dan kami pun percaya akan gerak misteri penyelenggaraan Ilahi, suatu masa nanti Jogja semakin menarik, tampil penuh jati diri. Karena hari ini, Jogja tetap unik apik berdandan kota lama Mataraman, memacu orang-orang datang melampiaskan elok gagah kenangan.

Andaikata kita mau mengaku, kita sering menyembunyikan masa lalu, sepertinya sih secara bersama kita berkarya keliru. Contohnya, dahulu aku pernah malu untuk belajar karawitan, buat apa sih, kan aku sudah ambil classical music di konservatori. Pada saat itu pula, dinyatakanlah aku dengan kebodohanku, aku kehilangan jati diri orang Jawa pada diriku.

Suatu waktu, ketika kami jadi utusan paduan suara beriring ansamble, di Netherland disambutlah kami oleh gabungan kaum muda Eropa, halus apik tata mereka mempersembahkan seni musik karawitan Ngayogyakarta Hadiningrat. Aduh! Kala itu aku dan teman-teman melompong, karena mereka itu tadi, juga amat piawai menampilkan suguhan indah orkestra seni musik klasik Eropa.

European Youths Playing Gamelan of Javanese

Dari mereka kami belajar dan merenung, tentang etika budaya bangsa modern, mereka menguasai seni budaya mereka sendiri, baru kemudian mereka hormat dan mempelajari seni budaya asing, untuk nanti dapat menyelaraskan kinerja persahabatan antarbangsa di bumi.

Di antara waktu jeda istirahat, kami bertemu bincang dengan anak-anak muda Eropa tadi. Mereka menyampaikan pesan, bahwa seorang itu modern, jikalau tahu dan menguasai budayanya sendiri, baru setelah itu belajar memahami budaya lain, sebaik menghidupi hidup budaya sendiri. Ternyata banyak pula di antara mereka, fasih berbahasa Jawa dan Indonesia. Bagi kami, secara tersirat mereka menuturkan, jangan sampai kami tidak punya budaya, karena jadi manusia prasejarah, alias jaduuul...banget.

Youth Orchestra

Musik karawitan Jawa Mataraman, setara musik klasik Eropa bertata orkestra, sama kuat punya pesona hantar gelombang Theta. Frekuensi gelombang Theta ini, berpengaruh amat baik bagi pesat pertumbuhan psikis dan fisik janin bayi, sejak di kandungan ibu.

Bahkan, bila dimainkan bersamaan elok gerak tata bathin, gelombang tadi menjadi apik frekuensi spiritual Delta, yang dapat merangkum semua indah kebajikan cinta, membawa semangat perdamaian dunia.

Aku dan teman-teman sungguh percaya, keindahan sejati pada karya seni adalah cermin pantul karya maha seni indah Sang Ilahi. Alam semesta ini amat indah, mutlak, dan nyata, serta bukan ilusi. Seringkali dinyatakan, ketika alam terganggu keseimbangannya karena ulah manusia, alam kembali indah menyeimbangkan kemutlakan nyata keberadaannya. Banyak orang secara awam menyebutnya sebagai bencana.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com