Aku termenung haru, nyatanya manusia tidak dapat menguasai alam, sebab manusia adalah bagian kecil dari alam. Dimana lagi kita bisa tinggal? Kita tidak dapat membuat udara, air, tanah, flora dan fauna, seperti kita tidak dapat membuat diri sendiri.

Jawabannya sudah tersirat di kumpulan kitab para nabi, kita hanya boleh bekerja sama dengan alam bumi, sebagai nyata menjalankan kehidupan, menyembah Allah, Sang Khalik sejati.

Keseimbangan sudah amat mutlak, sejak kehidupan awal ada bersama semesta alam dan bumi. Sungguh, keseimbangan itu baik dan baik, ia bukan semu, dan bukan pula persepsi baik dan buruk.

Ada matahari, ada juga bulan, ada siang, ada pula malam, ada daratan, pastilah ada lautan, ada air, diimbangi adanya kehidupan flora fauna serta manusia, karena ada udara. Demikian pula dipahamkan bagi kita, tentang wujud benda padat, benda cair, dan yang bersifat gas, contohnya udara dan juga gas-gas lainnya.

Kalau saja kita selalu berpikir dan juga bertindak baik, sesungguhnya kita sedang khusyuk sembahyang, memuja sembah Allah. Sikap itu menuntun kita melihat Allah melewati karya-karya Beliau, yang banyak memenuhi bumi, misalnya gunung, tanah datar, sungai, hutan, tanaman pangan, hewan, tumbuhan non pangan, juga bermacam tipe manusia, saudara kita.

Gunung Merapi, © Richard Seaman

Oleh karena itu, jangan sampai kita menjadi buta batin, tidak melihat Allah, karena sering merasa lebih baik daripada orang lain, beranggapan ide kita lebih cemerlang dari ide kelompok lain.

Dalam perenungan ini, aku makin banyak sekali melihat kebodohan-kebodohanku. Aku malu karena sok tahu, aku lupa bahwa aku manusia, yang bisa hidup karena ada masa lalu, masa kini, dan masa datang, juga karena ada matahari, langit, dan bumi.

Masa lalu, hari ini, dan masa mendatang, pastilah tak terpungkiri, amat penting bagi proses hidup setiap orang. Sekarang aku berusaha untuk tidak hanya melihat kekinian, sekuat pemahaman kugerakkan diriku untuk juga memahami masa silam, dan menghargai sebagai bentuk pemahaman, barulah nanti secara runut bertata, aku bisa memahami masa depan. Bukankah sudah dinyatakan, aku harus jadi bayi, lalu jadi anak kecil, kemudian jadi remaja, seterusnya jadi dewasa, selanjutnya menjadi tua, lalu kembali lagi bersatu dengan semesta.

Aku Galuh Arjuna Indra Putra, mengaku penuh keterbatasan, untuk selalu melihat kebaikan dan kebaikan, dimanapun aku berada, namun sebisa mungkin harus kulaksanakan.

Dan aku berbuat kebodohan terbesar, jika aku merasa lebih benar dari saudara lain, atau dengan kata lain, aku tergelincir melaksanakan kejahatan. Berbicara aku dengan diriku sendiri, "Galuh, kamu jangan sok hebat, orang lain juga hebat, yang maha hebat adalah Allah sendiri!"

Maka ketika banyak tindakan yang melukai perasaanku, menghalangi usahaku berbuat kebaikan menurut Allah, aku persembahkan semua luka hatiku sebagai doa persembahan kepada Allah, dan mulutku bungkam cerita kepada orang, tetap tampil tersenyum dan ramah.

Aku mencintai Tuhanku melebihi cintaku kepada apapun, aku mencintai bumi melebihi cintaku kepada tanah airku, aku mencintai tanah air, bangsa, dan negaraku melebihi cintaku kepada sanak keluarga dan handai taulan, namun juga aku mencintai sanak keluarga dan handai taulan melebihidari perhatian pada diriku sendiri.

Sementara dengan segala kekurangan, aku menyampaikan bahasa hatiku: aku mencintaimu, negara dan bangsaku Indonesia, beriring dengan cintaku padamu, Yogyakarta. Karena pada cinta-cinta itu, aku tengah mencintai seluruh sanak keluarga dan handai taulanku.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com