Hari-hari setelah perjalanan pagi itu, secara gaib teratur ketentraman tersajikan, terangkailah peristiwa rasa seluwes vas-vas bungaan mawar dan kamboja di beranda. Masing-masing punya warna dan citra sendiri, menguraikan kepang jalinan kisah kenang-kenangan, tampil manis sekali. Semenarik cantiknya Mitha bergerai rambut sebahu, datang menghantar teh hangat yang pasti diramu seduh dengan hati cintanya gemulai.

Bunga adenium merahBungaan mawar

Lalu seperti biasanya, ia tersenyum dekik dan renyah bersuara kata, "Galuh, silahkan minum, sayang. Habiskan ya, nanti kutinggal dulu, aku mau ke pasar dengan eyang." Belum sempat aku menjawab, kecupannya hangat mendarat di keningku, dan dengan cepat kecil berlari ia ke ruang tengah.

Sambil kuminum hangatnya teh cinta itu, tangan kiriku memegang buku, kisah liris prosa menembus hati, lewat pandang mataku membaca isi. Alur ceritanya begitu mengalir, sealun pukauan dongengan ibu, kalau ia hendak mengantar tidurku.

Getar jiwa liris prosa itu bagai genta bertalu-talu, bergema di relung kamar hatiku. Adapun genta cinta yang bertalu itu sebagai berikut kumandangkan sastra cinta:

Datanglah kerajaan cintamu, kekasihku, supaya tergerak langit payungi bumi, menyatu dalam arahkan gerak hatiku. Sebab engkaulah yang mulia meratukan cintamu, kehendak rinduku taat patuhi kehendak cintamu.

Sehingga bersama tanah bumi, tergeraklah aku menyemaikan cintaku padamu. Kelak di kemudian hari, aku panen ramai damai buahan cinta.

Asyik aku bayangkan, tentu saja karena perkenan ayunya daya cintamu, panen itu adalah pesta perkawinan kita kelak. Tergambar dalam ramai damai panen buahan cinta itu, banyaklah jiwa terundang terpatri melihat girang aku berlompatan, karena tertawan jadi mempelaimu, patuh ditambat untuk mencintaimu.

Aku pun kini sibuk melukiskan pesta perkawinan itu, yaitu ketika kamu tengah tampil elok kuat memaku pukau, para tamu undangan berbalap pacu minum ramuan terbaik minuman pesta, malu untuk terlihat, kalau mereka kagum padamu.

Duhai cantik nian dikau puteri, berselendang pelangi cinta di wajahmu. Nyatalah banyak jiwa berlarian datang, ingin uluk salam untuk dapat memandang sinaran cahaya teduh, pada raut anggun wajahmu. Sitar, seruling, dan kecapi bermadah bunyi, bersatu harmoni, dengan bernyanyinya sopran dan alto biola, ditingkahi gagah merdu cello berlagu, lincahnya bagai sekawanan kijang kencana bertarian, senang keriangan melihat bening air telaga, danau cintamu.

Kasih, kagum ku pada cintamu, hadirkan nirwana di tiap tingkah cintamu. Sungguh, gersang jiwa telah ditaklukkan, kini tumbuh subur keyakinan yang lama hilang.

Sejak dirasuk cintamu, menggila gelombang gelora kalbu. Puluhan kelasi di dalam diri, bangkit bersamaan mengembangkan layar, agar bahtera sampai ke seberang, lalu berlabuh di damai hatimu. Cantiklah kamu, mawar gaib kekasihku, segala harum cinta telah menebar dengan sempurna.

Bacchus relief vase from the 3rd century

Itulah tadi rangkaian kata hati, bagai pesat luncur ribuan anak panah menembusi jiwa, menumpahkan berpuluh pundi puisi dari hasil peraman terbaik anggur cinta. Peraman minuman anggur cinta itu, hasil tuaian dari ladang-ladang tersubur di lembah tanaman anggur, yang ditanam tertanamkan tak jauh dari danau berlimpah air kehidupan, karena aku tahu, rahim cintamu yang melahirkan.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com