Hai, kamu sekalian yang menghalangi aku jumpa kekasihku, takkan lama lagi punahlah kalian, sebab berhamba pada dengki dan iri. Lupakah kalian, pada waktu sakit merundung kamu semua, aku dan kekasihku datang, membawakan tabib dan obat ramuan, maka kemudian sembuhlah kamu semua.

Pada waktu kalian kesepian, aku dan kekasihku datang menghibur, dengan menyanyikan lagu penghiburan, ditingkahi iringan tabuhan musik tercantik baik, maka kalian pun gembira ikut berdendang.

Mengapa sekarang kalian ingin rebut kekasihku, dan menganggap keelokannya dapat kalian beli dengan tipuan tampilan, dengan kilau rayuan harta meski semua itu sepuhan?

Jangan salahkan langit dan bumi, yang rela melingkup lindung diriku dan cintaku pada kekasihku. Cintaku kepadanya, adalah polos cinta bayi tak punya apa-apa, justru menggerakkan lengan-lengan halus cintanya, menimang dan aman mendekap rapuhnya hatiku.

Mother Mary and Child

Kekasihku memang halus, sopan, dan cantik berlipat kali, lebih daripada semu kerlap, barang hiasan dandan yang sepuhan. Karena itu, harus berdandanlah aku sepadan dengan harapan mendapat hadiah cintanya. Aku, dengan kesahajaan seorang miskin, bersandang dandan kekayaan harapan hati, ternyata menggerakkan hatinya dan berkenan menyematkan berkilau-kilau cintanya, di jantung hatiku.

Aku ingatkan pada kalian yang berhamba pada iri dan dengki, yang mencoba membeli cinta kekasihku dengan semu sepuhan hati, dan ingin menipunya untuk kalian bermegah diri.

Dari tinggi dan luasnya kebiruan langit, matahari dengan gagah perkasa sinarnya, memerintahkan awan-gemawan beralih rupa jadi hujan deras tak terhingga, ia pun perintahkan udara untuk kuat bergeliat gulat menarikan putaran taufan.

Storm in the Sea, by Pieter the Younger Mulier (1690)

Maka lautan dan daratan patuh ikut menyikapi, badai lautan dan tanah hingar berguncang, di mana-mana. Jika kalian tetap berhamba pada iri dan dengki, musnahlah kamu semua, sebab matahari, lelangitan, dan bumi, hanya berhamba kepada Sejati Kebajikan Cinta, Allah sendiri.

Kalian lupa, berhamba pada iri dan dengki, pastilah kemudian kalian akan mengandung kelicikan, lalu melahirkan megah pongah kejahatan. Cobalah berbagi dan bercermin kepada kerajaan alam semesta, matahari tidak iri pada langit, langit tidak pernah iri pada bumi, air di laut dan di tanah tidak pula iri, bahkan melayani hidup daratan.

Siapakah sekalian kamu, berani bertuhankan diri sendiri, berhamba pada iri dan dengki, musnahlah sekalian kamu, bukan karena kuasaku, tetapi oleh karena matahari, langit, dan bumi, mewujudkan perintah kuasa tak tertandingi, yaitu Maha Perkasa Kuasa Surga.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com