Agung Kidung Kuasa Cinta, Bagian 46
Pada waktu kalian kesepian, aku dan kekasihku datang menghibur, dengan menyanyikan lagu penghiburan, ditingkahi iringan tabuhan musik tercantik baik, maka kalian pun gembira ikut berdendang.
Mengapa sekarang kalian ingin rebut kekasihku, dan menganggap keelokannya dapat kalian beli dengan tipuan tampilan, dengan kilau rayuan harta meski semua itu sepuhan?
Jangan salahkan langit dan bumi, yang rela melingkup lindung diriku dan cintaku pada kekasihku. Cintaku kepadanya, adalah polos cinta bayi tak punya apa-apa, justru menggerakkan lengan-lengan halus cintanya, menimang dan aman mendekap rapuhnya hatiku.

Aku ingatkan pada kalian yang berhamba pada iri dan dengki, yang mencoba membeli cinta kekasihku dengan semu sepuhan hati, dan ingin menipunya untuk kalian bermegah diri.
Dari tinggi dan luasnya kebiruan langit, matahari dengan gagah perkasa sinarnya, memerintahkan awan-gemawan beralih rupa jadi hujan deras tak terhingga, ia pun perintahkan udara untuk kuat bergeliat gulat menarikan putaran taufan.

Kalian lupa, berhamba pada iri dan dengki, pastilah kemudian kalian akan mengandung kelicikan, lalu melahirkan megah pongah kejahatan. Cobalah berbagi dan bercermin kepada kerajaan alam semesta, matahari tidak iri pada langit, langit tidak pernah iri pada bumi, air di laut dan di tanah tidak pula iri, bahkan melayani hidup daratan.
Siapakah sekalian kamu, berani bertuhankan diri sendiri, berhamba pada iri dan dengki, musnahlah sekalian kamu, bukan karena kuasaku, tetapi oleh karena matahari, langit, dan bumi, mewujudkan perintah kuasa tak tertandingi, yaitu Maha Perkasa Kuasa Surga.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Agung Kidung Kuasa Cinta, Bagian 46


