Di antara kepulan aroma tembakau bumi Jawa, yang dihisap kulum dan dihembuskan sahabat baruku, sang pengendali roda tiga, aku dengar dia bercerita tentang alun-alun utara, di masa ia jejaka muda. Suaranya yang berat, menuturkan bahwa dahulu kaum muda seusianya, amat bahagia ketika Sekatenan tiba. Bergunung-gunung, gunungan hasil bumi, berduyun bersatu gabung, di perayaan syukur agung. Pada masa itu, ia sungguh merasakan pesta perkawinan surga dan bumi, tampil di wajah setiap insan, tua-muda, jejaka-dara, Raja dan jelata. Pada pesta syukur agung ini, para insan mempersembahkan roh, jiwa, dan raganya, yang berpakaian santunnya budaya, menggelarkan sendratari bathin di pelataran Gedung Pagelaran Budaya.

Aku kagum mendengar kesakralannya bercerita, seolah-olah ia tengah mendongeng, selusin berlian berkilauan bermacam warna, tampil gagah dan agung di sebuah mahkota. Perasaanku berayun-ayun, bagai bayi di alunan gendongan ibu, seperti mabuknya lelaki muda, dibuai liuk cantik nyanyian dari seorang gadis jelita.

Sebuah getaran suara berwibawa seorang yang sarat manisnya buah-buah hidup, aku dengar sejuk, bapak pengayuh roda tiga itu berkata, "Sudahkah Anda puas mendengar ceritaku?"

Aku menjawab dengan rasa kenyang nurani, lewat mataku yang menatap haru ke wajahnya, yang tampak tua namun tak renta. Aku bertanya kepadanya, "Pak, aku lapar. Di mana ya, tempat makan yang menjamukan tata rasa Jogja dahulu kala?"

Sambil menghela nafas haru, ia menjawab, "Mas, mau makan yang dagingan atau yang banyak sayurannya?"

"Yang ada dua-duanya, Pak," jawabku.

"Oo begitu... Kita ke rumah makan Warung Bu Kudo saja, di sana ada pecel, sayur bening, terik, baceman, empal, dan lain-lain," sahutnya.

"Baiklah, kita ke sana," kataku.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com