Sambil diiringi pandangan mataku, menikmati mahkota keemasan di wajah muka Gedung Pagelaran Budaya, gerak ayun kaki pada jiwa bersahaja, sang empu roda tiga, membawa aku beranjak arah balik, memutar alun-alun utara dengan gajah putihku. Riak-riak rinduku, berputar melingkar bertambah kuat, menjadi gelombang kangen pada Jogja, berkumandang di hatiku.

Becak unik, antik, cantik, berhenti dengan santun, di depan rumah mungil, namun anggun dalam kesederhanaan sebuah warung makan Jawa. Rasa laparku meronta, mencium bau, aroma menggemaskan masakan Jawa, membuat lelah terbang dari badanku. Kesegaran ragaku karena keriangan jiwaku, tampil apik, ketika dengan mudah aku dorong gajah putihku berdiri gagah dan tenang.

Aku ajak bapak tua, yang berpamor bijaksana namun bersahaja, sang empunya roda tiga, rayakan perjumpaan pagi ini dengan pesta perjamuan sarapan, arif kesantunan dimenangkan.

Sambil menikmati nasi urap, uap masakan urap merasuki hidungku, rasa kagum bertamu di pikiranku. Kagum itu menguak kesadaran akan kebanggaan, bahwa kita adalah makhluk yang sungguh diberkati. Direncanakan dan diperkenankan oleh Sang Hyang Widhi, Gusti Allah, diwujudkan-Nya terlahir di bumi yang teramat baik ciptaan-Nya.

Makanan Khas Bercitarasa Jogja

Makanan-makanan ini amat kaya rasa, sarat tata guna, menyemaikan sehat kesentausaan bagi jiwa dan raga. Dan inti dari apa yang kita alami, sebagai manusia pertiwi, kita sungguh beruntung berlaksa-laksa karunia, hidup di Nusantara. Aku benar-benar dikurung untung, berderu gebu santapan teranggun, kenyangkan jiwaku. Berderas teguk minuman adhi mulya, puaskan dahaga budi pekertiku.

Di Warung Bu Kudo, masakan Jawa Jogja, mencerahkan aku, berjumpa kesadaran sukmaku.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com