Terpanah Hatiku, Bagian 5
Sudah hampir lima kali tahun berganti, aku tidak ke Jogja, peta sederhana dari Pak Raharjo, berperan utama penunjuk biduk hatiku, untuk berlabuh padamu Jogja, istirah mengurai penat jiwa raga yang kubawa. Scooter Piaggio, kuarahkan menuju Gondomanan, sudah cukup ramai jalanan, orang-orang lalu-lalang, keterburuan mereka - pengendara sepeda motor - mengusik ketentraman sejarah keanggunan Jogja. Sambil berkendara, kukidungkan nyanyian pujian syukur, bahwa aku diperkenankan pulang melihat Jogja, yang diusik hingar-bingar keterpurukan lain kota. Saudaraku para insan Jogja, aku masih teramat percaya pada diri kita, sudah ditanamkan, disemaikan keagungan laku budaya Ngayogyakarta Hadiningrat yang berwibawa. Semoga saja, keagungan itu besok akan tumbuh, berkembang dan berbuah, ketika banyak tempat mencari teladan, kita tampil membuka jalan.
Di seputar Jalan Parangtritis kawasan Prawirotaman, kekuatan keteladanan prawira utama masih membekas di ingatan masa kecilku. Eyangku sering bercerita bahwa di tempat ini, para prawira utama, pelaku pelaksana tinggi kebijakan Empunya Kraton, menjunjung tinggi keteladanan laku budaya Jogja.

Kami, aku dan gajah putihku, masuk ke sebuah jalan kecil persis di depan pasar, rumah eyang sudah tampak, wewangian teh yang dibuat Mitha, sang Sasmita dari kahyangan yang memanah hatiku, harum berhamburan semerbak menentramkanku. Cintaku sungguh matang meranum di gang Sartono, depan Rumah Eyang.
Bersambung...
Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2009 JogjaPenatahCinta.Com
Urutan Tata Guratan
-
Terpanah Hatiku, Bagian 5
