Dalam ketermenunganku, aku merenungkan sikap dan sifat alam semesta, juga bumi, di situ dinyatakan misteri dari kemutlakan kebijaksanaan Ilahi, tak bisa dipahami dengan analogi manusia di manapun. Ilmu sosial dan politik banyak kali gagal mewujudkan sikap hidup harmonis dalam semua tataran pemahaman kelompok besar masyarakat sosial, untuk menghayati peran hidup kebersamaan, sebagai wujud agungnya makna hidup. Sedemikian pula ilmu perekonomian, tidak pernah bisa menghadirkan hakiki keadilan di semua penopang kebutuhan hidup ragawi manusia di bumi. Hampir sudah sepuluh tahun aku tekuni waktu, untuk belajar memahami cara menerapkan kepentingan sinerginya ilmu sosial dan politik, untuk menghela perputaran roda logika ekonomi atau kebutuhan hidup sosial. Semua sia-sia bagiku, karena sering kali membuatku bersikap pongah dan tidak adil kepada semua saudaraku manusia, juga bersikap memaksakan kehendak, mengatur hidup menurut pemikiranku. Sekali lagi, pada sikapku ini, diwartakanlah oleh kesempurnaan ekologi alam semesta, aku tengah menghadirkan super kebodohanku. Nyatalah sudah kegoblokanku amat sangat, ketika kusombongkan daya pemikiranku, aku masuk ke lembah ketololan gelap pekat. Aku lupa bahwa aku manusia, dengan tindakanku ini aku tengah jadi seperempat manusia, sedang tiga per empatnya lebih naïf dari kera. Kini aku sadar, semakin aku berani tampil mempersembahkan sajian-sajian cinta kepada setiap orang dan seluruh makhluk dengan tidak pernah merasa sempurna, aku jadi manusia merdeka. Sehingga citra Allah yaitu cinta merajai aku, maka genaplah bahwa manusia citra Allah.

Di tulisan kisah liris prosa mas Sugeng Waluya, ia dengan kejujurannya mengungkapkan keterbatasannya sebagai seorang manusia. Justru pada kepolosannya menuliskan bahasa batinnya pada liris prosa, seratus persen ke-Ilahi-an Sang Khalik menghidupi daya roh, jiwa, dan raganya. Memang kuakui kini, mas Sugeng Waluya adalah makhluk yang unik menarik, sesuai dengan arti namanya, yaitu mas Slamet pembawa keselamatan. Ia tengah selalu mengingatkan kita, bahwa kita sesungguhnya adalah makhluk surgawi yang mewujud di bumi. Oleh karena itu, kita lebih tinggi dari kekuatan kejahatan di wilayah manapun, karena Cinta Allah sendiri adalah Sang Maha Pencipta dan Penguasa Tunggal seluruh tata kehidupan, baik di Surga, di angkasa raya semesta, dan di bumi. Maka ketika berkumpul banyak batin manusia mempersembahkan pengakuannya, bahwa mereka dengan jujur mengakui menyembah dan membutuhkan Allah, seluruh jagat semesta juga ikut berdoa bersama mereka. Oleh karena itu, semua tempat yang tidak seimbang energi kebajikannya, akan serentak diseimbangkan oleh gerak jagat semesta yang berbenah diri untuk menyembah Allah.

Panser tank dan bazoka TNI AD
Latihan perang TNI AD di daerah rawa

Di tanah bumi, dataran bergejolak gerak menyeimbangkan bentuk permukaan daratan, supaya pantas menyembah keputusan Ilahi, bagai gerak pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri medan bertaut gabung menghancurkan musuh, karena mutlak menang mempertahankan kedaulatan keputusan Yang Maha Esa, dalam wujud utuhnya nusa bangsa.

Pesawat tempur dan rudal krilayang kapal militer TNI AU dan TNI AL

Di lelangitan, deras hujan dan kuat perkasa angin bergerak putar luncurkan beribu laksa anak panah, membinasakan para raksasa energi kejahatan. Maka laut pun menyambut sikap langit dengan bergelombang dahsyat, menghancurkan luluh karang-karang perilaku munafik jahiliyah, bagai bertaut gabung penyerbuan pesawat-pesawat tempur pasukan udara dengan bombardemen kapal-kapal tempur, yang juga disikapi gagah marinir menguasai pantai. Lalu semua musuh sirna, karena kegagahan kebijaksanaan Yang Maha Esa pasti menang dan hormat dijunjung tiap jiwa, diwujudkan dalam wibawa gagah berdiri Nusantara.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com