Aku dan semua orang, lewat kelahiran mewujud di bumi, adalah melewati pertemuan seorang pria dan seorang perempuan, yang kemudian digerakkan oleh daya batin, mereka melaksanakan ritual hidup perkawinan kehidupan, yang pasti karena pertemuan itu dikehendaki oleh Sang Maha Hidup. Sang Ilahi merencanakan kehendak Cinta Surgawi-Nya diwujudkan melewati peristiwa lahirnya bayi-bayi mulia, dengan bahasa lain, yaitu para golekan kencana dan bocah bajang. Amatlah tidak pantas dan hina perbuatan, ketika kita mengharamkan kelahiran seseorang bayi di muka bumi, hanya karena pemahaman kebaikan menurut normatif logika kita, karena dalam pemahaman itu, kita tengah mencoba menjadi hakim agung, menghakimi kehidupan. Sementara itu, kita tidak menyadari bahwa kita tidak bisa menciptakan kehidupan. Siapakah kita, apabila bersikap seperti itu? Apakah kita penyembah Allah, atau kita penyembah kejahatan yang selalu menentang keputusan Karya Cipta Ilahi, Allah SWT?

Golekan kencana atau bocah bajang atau bayi mulia

Dalam penuh permenungan, aku Galuh Arjuna Indra Putra, dengan segala keterbatasanku sebagai manusia, aku mendapat hadiah untuk mengantuk dan tidur. Pada saat itu Kuasa Surga memerintahkan daya semesta lelangitan mewujudkan bumi mengalami malam, waktu istirahat bagi manusia dan tumbuhan, sebagian makhluk mengawali gerak kehidupan menurut strata tugas kehidupan mereka, itulah kebijaksanaan Yang Maha Ilahi, yang terbaik dari yang baik bagi manusia dan seluruh makhluk. Tertidurlah aku dengan damai, dikelilingi rangkaian persembahan peristiwa yang kualami, kupersembahkan kepada Beliau, ditingkahi para malaikat sahabatku bernyanyi dendang lagu kedamaian.

Pagi-pagi benar, diawali nyanyian pujian di tiap surau menggema menyerukan pengakuan penyembahan kepada Sang Khalik, dan di banyak tempat, vihara, pura, gereja, dan tempat semadi, melakukan hal yang sama, menyembah dan bersyukur kepada-Nya. Aku bangkit terbangunkan, di ranjang aku duduk di tepian, roh, jiwa, dan ragaku memadahkan kidungan pujian syukur, diperkenankan hari ini mengalami kehidupan. Selesai aku berjalan di pulau samadhi, aku bergegas ke kamar mandi. Kehidupan ragawi disegarkan, bersiramkan daya air kehidupan, mencuci wajah jiwa dan ragaku, bugar segar menatang pagi dengan tegar.

"Selamat pagi, Galuh. Biasa, ini hangat kopi buat kamu. Jangan ragu lho, karena cintaku ada di situ."

Di ruang makan, Mitha menyambut pagiku dengan sapaan cintanya. Ia letakkan panas kopi di cangkir, dan hangat goreng pisang yang tampil ramah di nampan, tertatakan manis di sudut meja makan. Lalu ia tarikan gerak lehernya ke depan, meluncurkan kecupan bibirnya manis kenyal, mendarat di pipiku, menyatakan cintanya ranum mengkal.

Eyang Putri tersenyum, sinar matanya tertawa, bibirnya terbuka, melontarkan panahan sastra kata rasa, "Anak-anakku, cucu-cucuku, sudah pada doa belum? Ayo, kita doa bersama di meja makan, karena Tuhan berkenan hadir dengan sajian sarapan hari ini, maka kita diundang bersyukur kepada-Nya, untuk bersama makan di perjamuan suci di kala sarapan."

Di rumah Eyang, pagi ini kami menyantap misteri kehidupan, yang mengawali irama gerak tarian peristiwa hidup sampai nanti senja menjelang.


Bersambung...


Original Writer: Slamet Santosa
Copyright © 2010 JogjaPenatahCinta.Com