Bahasa Hati di Jogja
Bersama Mitha, Sugeng Waluya, Maryati Dewi, dan teman-temanya, Galuh menceritakan kisah bahasa hatinya selama di Jogja, yang menatah cintanya.
Author: Slamet Santosa
Copyright: JogjaPenatahCinta.com
Tunas Emas Pepohonan Cinta, Bagian 88
Dalam suara bariton bersahaja merendah, Sugeng Waluya menyampaikan kalimat bahasa hatinya, “Galuh, sudah banyak komposisi yang kugubah dibawakan beberapa orang, yang kini terkenal dan banyak dipuja penggemarnya. Jangan kamu sangka aku tengah berlimpah uang sekarang, meskipun di tiap pentas, para penyanyi tadi mendapat upah nafkah yang berlimpah. Sedemikian pula record label yang membuat album musik bagi mereka. Aku merasa sedih, bukan hanya intelectual rights-ku yang dilanggar, mechanical rights-ku pun tidak dibayarkan. Tetapi yang pokok adalah, martabat kesenimananku dikoyak dan dihinakan, seolah karya cipta Allah, yang membuat kemampuan dalam diriku, sama sekali tidak dihormat.
Manggala Sandhi Yudha Cinta, Bagian 87
Bertiga kami berbincang, di beranda, suara bahasa jiwa berkumandang, tanda bergeraknya relung hati kami, melahirkan makna hidup bakti. Suara Kenya Maryati Dewi sebagai panah Srikandi, meluncur tajam, menancapkan makna cinta budaya, menggugah aku – Arjuna, menerbangkan pasopati, dalam ribuan sandhi yudha kemasan, eloknya budaya diseni-tampilkan. Sugeng Waluya jadi manggala, menata larik pertahanan barisan syukur doa, pada tiap kalimat liris prosa, yang akan menempati jaringan warta budaya, di dunia informatika. Jaringan warta budaya itu adalah wujud persembahan patuh mengabdi kepada Tuhan, hormat mengangkat nilai budaya Jawa, dan bernama Jogja Penatah Cinta.
Keindahan Cinta Mendatangiku Lagi, Bagian 86
Aku lihat daun-daun gugur berputaran melayang, melenggang sebelum jatuh, juga seakan hati-hati menapakkan kekuningan helainya, di atas hijau rerumputan jepang. Pada gerak putaran layang dedaunan tadi, wajah teduh kekasihku tersenyum sejuk bersama keteduhan pagi. Cantik parasnya, sakral wangi harum tubuhnya, hangat halus kuning langsat juntaian tangannya memeluk rasa rindu di dalam dadaku, seirama sinar matahari pagi mendandani gerak angin sepoi, di beranda rumah eyang termenung aku sendiri. Kakiku menapaki tua ubin dengan motif mawar gotik putih-merah-emas, membuat gemas ingatanku akan Widhi Puteri Sasmita, gadis cantik pengikat hatiku, yang elok bagai pusaka trisula emas.
