Bahasa Hati di Jogja

Geguritan (geguratan) atau kumpulan tulisan-tulisan dari Sang Cinta, yang berjudul Bahasa Hati di Jogja. Bercerita tentang kisah hidup dan romansa petualangan Galuh, yang juga bernama Arjuna Indra Putra, bersama 'si gajah putih', Vespa Rally 200 (Super Sport) asli dari Piaggio, dan 'si kuda hitam', Yamaha RX-King, juga gitar kesayangannya.

Bersama Mitha, Sugeng Waluya, Maryati Dewi, dan teman-temanya, Galuh menceritakan kisah bahasa hatinya selama di Jogja, yang menatah cintanya.

Author: Slamet Santosa
Copyright: JogjaPenatahCinta.com

    (Halaman 1 dari 7)   
    « Sebelumnya
      
    1
      2  3  4  5  Selanjutnya »
    Palguna Janaka
    Pagi menjelang siang, setelah pamitan dengan eyang, dan mengecupkan cinta di dahi Mitha, aku bergegas berlanglang bersama Piaggio Super Sport Rally 200. Vespa separuh baya ini, abadi daya tugas dan pesonanya, gagah bergerak hormat, melewati pintu gerbang halaman depan. Sedikit berayun menambahkan daya tariknya, kaki-kakinya yang bundar menapak jalanan yang mulai banyak lobang, di depan rumah eyang. Aku ingat cerita ayahku, dengan Vespa ini, ia sering pulang tugas dari Jakarta ke Magelang, hebat juga ya, sampai sekarang masih laju melenggang, dan suara mesinnya lengang.
    Palguna Janaka
    Wara Ratu Pangastuti, eyang putriku, pagi ini tampak sekali memberikan sukacita bagi jiwa-jiwa di sekitarnya. Ia dengan amat rapi menatakan rasa tentram hati kami, di atas meja peraduan, yaitu hatinya sendiri. Hatinya yang penuh doa bagi kami, terlihat dari cara ia mengentaskan pisang goreng dari penggorengan wajan. Warna matang kekuningan pisang goreng, menandakan ketepatan kesabarannya mengikuti irama perkembangan kematangan makanan itu. Satu persatu pisang goreng tadi, ia pindahkan dari ayak peniris, ke atas piring keramik berhiaskan banyak gambar mawar, lalu ia pun meletakkannya ke atas peraduan meja makan.
    Palguna Janaka
    Aku sudah cukup puas duduk minum teh, juga mengulum asap tembakau, rasa lelah di badanku mulai mengirimkan isyarat untuk minta ragaku istirahat. Kubenahi perangkat poci teh dan kubawa ke dapur, lalu sekalian aku cuci bersih, supaya esok pagi eyang tidak direpotkan. Di rak piring kayu dari batang kelapa, aku atur poci dan cangkir teh ini dengan rasa santun, karena telah memberiku rasa nyaman, sewaktu menikmati teh hangat manis, yang diwadahinya dengan sahaja coklat warna tanah.
    Palguna Janaka
    Hari sudah larut malam, Mitha bersuara halus dan menggumam.
    "Galuh, pulang yuk! Aku ngantuk nih, lagipula besok harus bantu eyang, katanya Pak Widagdo besok mau datang."

    Aku tatap dalam-dalam matanya, kekasihku ini sudah kenyang berjalan-jalan petang denganku. Dari cahaya bola matanya, ia menampakkan kesenangan hatinya di hari ini, bisa berdendang keliling kota dengan Arjuna-nya.

    "Baik, Mitha, aku juga sudah rindu untuk mencecap buah cinta di dadamu, yang nanti harus kamu tuangkan jadi ramuan sedap, teh poci di rumah eyang, ya..."
    Palguna Janaka
    Norton, BSA, Harley, dan Vespa, mobil-motor tua ramaikan jalanan. Beriring bunyi derapnya kuda, gagah menarik kusir dan keretanya. Aku asyik ayunkan kaki, menggerakkan kedua pedal, roda sepeda pun berputar, oh sungguh uniknya malam minggu di Jogja. Aku bersama dia, tengah dibuai rasa. Di antara ayunan kakiku pada pedal Humber, hati Mitha ikut beralun, detik gearbox menanggapi keriangan kami, bagai ritmik musik yang dimainkan cantik kurcaci-kurcaci surgawi.
    (Halaman 1 dari 7)   
    « Sebelumnya
      
    1
      2  3  4  5  Selanjutnya »