Bahasa Hati di Jogja

Geguritan (geguratan) atau kumpulan tulisan-tulisan dari Sang Cinta, yang berjudul Bahasa Hati di Jogja. Bercerita tentang kisah hidup dan romansa petualangan Galuh, yang juga bernama Arjuna Indra Putra, bersama 'si gajah putih', Vespa Rally 200 (Super Sport) asli dari Piaggio, dan 'si kuda hitam', Yamaha RX-King, juga gitar kesayangannya.

Bersama Mitha, Sugeng Waluya, Maryati Dewi, dan teman-temanya, Galuh menceritakan kisah bahasa hatinya selama di Jogja, yang menatah cintanya.

Author: Slamet Santosa
Copyright: JogjaPenatahCinta.com

    (Halaman 1 dari 20)   
    « Sebelumnya
      
    1
      2  3  4  5  Selanjutnya »
    Palguna Janaka Sampai di daerah Pura Pakualaman, kami belok masuk ke dalam, hati kami dituntun oleh energi surgawi, untuk singgah menepi. Di halaman depan Pura Pakualaman ini, sekarang banyak orang bertenda, berjualan makanan dan wedangan. Pohon beringin besar di depan nampak tua dan berwibawa, berselubungkan pendar cahaya bulan ditingkahi rintikan hujan. Perlahan sepeda kuarahkan ke halaman itu, untuk istirahat bersanding sepeda motor yang diparkir lebih dahulu.
    Palguna Janaka Sambil asyik menikmati daya luncur sepeda yang kukayuh, tanganku mengatur arah, mataku memandang suasana senja temaram menuju puncak malam. Warta Pamarta nampak mulai banyak diam, Jogja di rintikan hujan berbias kena cahaya lampu jalan, terlihat bagai pangeran tampan berbaju salah pakaian. Keanggunan agung tata kotanya kini mulai banyak terkikis, ketampanan ganteng legendanya sebagai kota budaya bisa sebentar lagi habis, banyaknya baliho dan papan reklame, serta munculnya gedung-gedung baru bermodal kaca juga bertingkat seperti kandang burung, membuat hatiku miris, Warta Pamarta nampak sedih, karena tahu indahnya Jogja kini bagai dikungkung tangis pengemis.
    Palguna Janaka Aku dan Warta Pamarta kembali lanjut cerita hati kami bergerak, dia asyik bersiul melodi lagu “Kolam Susu”, sedang aku terasuki gerak rohnya, aku menimpali bersiul kontra melodi yang kooperatif, meluncur jujur di jalur nada bibirku. Maka gaya khas cantus firmus komposisi Tony Koeswoyo, erat berpasang taut harmoni contrapunk ala Johan Sebastian Bach, jadi kesatuan aesthetic dari dua gaya keindahan yang berbeda, namun satu makna, karena pemahaman martabat seni hati nurani. Saat ini juga, di atas luncur sepeda, aku dan Warta Pamarta menatahkan pahatan ukir gerak inti rasa keindahan seni, mewujud rupa. Wujud rupa dari keindahan terbentuk, karena sukma bathin kami memuja sembah Sang Hyang Widhi Wasa, yang telah dan selalu menciptakan keindahan alam bumi pertiwi.
    (Halaman 1 dari 20)   
    « Sebelumnya
      
    1
      2  3  4  5  Selanjutnya »