Bahasa Hati di Jogja
Bersama Mitha, Sugeng Waluya, Maryati Dewi, dan teman-temanya, Galuh menceritakan kisah bahasa hatinya selama di Jogja, yang menatah cintanya.
Author: Slamet Santosa
Copyright: JogjaPenatahCinta.com
Abadi Mutlak Karya Cinta, Bagian 55
Kami istirahat sambil menikmati minuman hangat, kerinduan kami akan kebangkitan nusantara dan Jogja meningkat, pada harum teh jahe hangat, rasa kami untuk berjuang kuat menanam-tumbuhkan, sampai menuaikan pertahanan budaya nusantara, mengikat dan jadi daya pikat. Di warung angkringan ini, hati kami makin gemas menguat. Beberapa anak muda, dengan kami tak jauh usia, dengan tingkah jauh dari santun budaya, tidak hormat kepada ibu tua sang pedagang makanan angkringan, membuat kami muak. Sekali lagi, saudara-saudara kita ini tengah menunjukkan kebodohannya, tidak pantas disebut orang modern, sebab budaya asli tidak nampak pada mereka.
Pertahanan Makanan Bagi Negara Cinta, Bagian 54
Aku dan Warta Pamarta pergi berkendara sepeda, berboncengan jiwa dan raga kami, berdua roh kami bersinergi kerja, karena punya penghayatan rohaniah yang sama. Gazelle seri 11 yang menyandang gearbox sturmey archer berdecik-decak, aku dan Warta Pamarta gembira ria nikmati senja, berputar keliling kota dengan hati semarak. Senja ini, Galuh Arjuna Indra Putra, anak perwira tentara, membawa dengan girang Warta Pamarta, anak petani dari desa. Kami berdua bagai pasangan tepat guna, seolah sepucuk senapan dan pelurunya. Kenapa harus begitu?
Lumbung Santapan Cinta, Bagian 53
Menur atau melati, rosa atau mawar, juga adenium berkembang merah muda, mengangguk-angguk diayun angin menjelang senja, lalu aku tertawa, percikan air membasahi muka, ketika asyik kusiram bebungaan tadi dengan segar air. Aku harus hormat kepada mereka para tumbuhan, yang hidup menghias tanah negeri ini, dengan kekuatan hidup Sang Cinta, yang menghidupi semua makhluk di tanah pertiwi.
