Bahasa Hati di Jogja

Geguritan (geguratan) atau kumpulan tulisan-tulisan dari Sang Cinta, yang berjudul Bahasa Hati di Jogja. Bercerita tentang kisah hidup dan romansa petualangan Galuh, yang juga bernama Arjuna Indra Putra, bersama 'si gajah putih', Vespa Rally 200 (Super Sport) asli dari Piaggio, dan 'si kuda hitam', Yamaha RX-King, juga gitar kesayangannya.

Bersama Mitha, Sugeng Waluya, Maryati Dewi, dan teman-temanya, Galuh menceritakan kisah bahasa hatinya selama di Jogja, yang menatah cintanya.

Author: Slamet Santosa
Copyright: JogjaPenatahCinta.com

    (Halaman 4 dari 20)   « Sebelumnya  2  3  
    4
      5  6  Selanjutnya »
    Palguna Janaka

    Kekuatan santapan di kala sarapan bersama Mitha dan eyang, membuat aku Galuh Arjuna Indra Putra mapan meletakkan perasaan, mengikuti sifat penurut rohku kepada Roh Kehidupan. Di sini dinyatakan, sungguh roh itu penurut dan mampu memerintah kedaginganku untuk lebih tahu diri, taat kepada keharusan irama kehidupan. Bersamaan dengan kepulan asap dari rokok tembakau yang kuhisap, juga nikmatnya murni rasa kopi jawa, keindahan estetika rohku menghantarkan jiwa ragaku hanyut di pukauan pandang mata, melihat keindahan Jogja di masa silam.

    Palguna Janaka

    Aku dan semua orang, lewat kelahiran mewujud di bumi, adalah melewati pertemuan seorang pria dan seorang perempuan, yang kemudian digerakkan oleh daya batin, mereka melaksanakan ritual hidup perkawinan kehidupan, yang pasti karena pertemuan itu dikehendaki oleh Sang Maha Hidup. Sang Ilahi merencanakan kehendak Cinta Surgawi-Nya diwujudkan melewati peristiwa lahirnya bayi-bayi mulia, dengan bahasa lain, yaitu para golekan kencana dan bocah bajang.

    Palguna Janaka
    Dalam ketermenunganku, aku merenungkan sikap dan sifat alam semesta, juga bumi, di situ dinyatakan misteri dari kemutlakan kebijaksanaan Ilahi, tak bisa dipahami dengan analogi manusia di manapun. Ilmu sosial dan politik banyak kali gagal mewujudkan sikap hidup harmonis dalam semua tataran pemahaman kelompok besar masyarakat sosial, untuk menghayati peran hidup kebersamaan, sebagai wujud agungnya makna hidup. Sedemikian pula ilmu perekonomian, tidak pernah bisa menghadirkan hakiki keadilan di semua penopang kebutuhan hidup ragawi manusia di bumi. Hampir sudah sepuluh tahun aku tekuni waktu, untuk belajar memahami cara menerapkan kepentingan sinerginya ilmu sosial dan politik, untuk menghela perputaran roda logika ekonomi atau kebutuhan hidup sosial. Semua sia-sia bagiku, karena sering kali membuatku bersikap pongah dan tidak adil kepada semua saudaraku manusia, juga bersikap memaksakan kehendak, mengatur hidup menurut pemikiranku.
    (Halaman 4 dari 20)   « Sebelumnya  2  3  
    4
      5  6  Selanjutnya »